PSIKOLOGI BELAJAR
RAGAM BELAJAR
DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103
PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024
PENDAHULUAN
Dalam proses kegiatan belajar mengajar sebelumnya ada yang harus diperhatikan baik pengajar maupun peserta pendidik, salah satunya yaitu mengenai ragam-ragam pembelajaran. Hal tersebut penting sekali karena diharapkan nanti dalam proses belajar mengajar dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Untuk mempertemukan tujuan pembelajaran dapat di upayakan dengan cara mengkomunikasikan tujuan tersebut kepada siswa. Dampaknya memang berbeda–beda pada diri rangsangan agar siswa merumuskan sendiri apa yang diingikan atau diharapkan dari kegiatan belajar yang hendak dilakukan. Keanekaragaman belajar muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang bermacam–macam. Lebih jelasnya mengenai ragam-ragam pembelajaran akan diterangkan pada bab selanjutnya.
Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan interaksi yang dinamis antara pendidik yang melaksanakan tugas mengajar dengan anak didik yang melaksanakan kegiatan belajar. Proses interaksi ini sangat penting dalam kelangsungan proses belajar mengajar, karena dalam proses belajar mengajar pendidik menyampaikan suatu pesan berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan etika kepada para peserta didik melalui proses interaksi.
PEMBAHASAN
Hakekat Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Slameto menyatakan bahwa Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Selanjutnya Nana Sudjana mendefenisikan: “Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan suatu perubahan pada diri seseorang”. Perubahan yang dimaksud itu berupa hasil belajar yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk.
Teori Belajar
Pada mulanya teori-teori belajar dikembangkan oleh para ahli psikologi dan dicobakan tidak langsung kepada manusia di sekolah, melainkan menggunakan percobaan dengan binatang. Mereka beranggapan bahwa hasil percobaannya akan dapat diterapkan pada proses belajar-mengajar untuk manusia. Pada tingkat perkembangan berikutnya, baru para ahli mencurahkan perhatiannya pada proses belajar-mengajar untuk manusia di sekolah. Penelitian-penelitiannya yang tertuang dalam berbagai teori yang berbagai macam jenisnya. Teori-teori ini kemudian dikembangkan pada suatu stadium yang berdasar atas prinsip Conditioning, yakni pembentukan hubungan stimulus dan respons.
Macam-macam Ragam Belajar
Ragam Abstrak
Ragam belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat disamping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, astronomi, dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid.
Ragam sosial
Ragam belajar sosial pada dasarnya adalah belajar memahami masalahmasalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga, persahabatan, kelompok, dan masalah lainnya yang bersifat kemasyarakatan. Selain itu, belajar sosial juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional.
Ragam Pemecahan Masalah
Ragam belajar pemecahan masalah yaitu belajar menggunakan metodemetode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas dan tuntas.
Ragam Rasional
Ragam belajar Rasional ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah.
Ragam keterampilan
Ragam belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakangerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular). Tujuannya adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini latihan secara intensif dan teratur amat diperlukan. Termasuk dalam belajar ini misalnya belajar olahraga, musik, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik dan juga sebagian bidang studi agama seperti ibadah shalat dan haji.
Ragam Kebiasaan
Ragam belajar kebisaaan adalah proses pembentukan kebisaaan-kebisaaan baru atau perbaikan kebisaaan-kebisaaan yang telah ada. Belajar kebisaaan selain mengguanakan perintah, suri tauladan dan pengalaman khusus juga menggunakan ganjaran dan hukuman (reward & punishment). Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebisaaan-kebisaaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (konstektual) serta selaras dengan norma dan tata nilai yang berlaku, baik yang bersifat religious maupun yang bersifat kultural dan tradisional. Belajar kebisaaan lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga sebagaimana yang dimaksud oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 Bab VI Bagian keenam Pasal 27 (1). Namun demikian, tentu tidak tertutup kemungkinan penggunaan pelajaran agama sebagai sarana belajar kebisaaan bagi para siswa.
Ragam Apresiasi
Ragam belajar apresiasi merupakan belajar mempertimbangkan (judgement) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skill) dimana dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu, misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, apresiasi lukisan, benda sejarah dan sebagainya. Bidang-bidang studi yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan sastra, kerajinan tangan (prakarya), kesenian, menggambar, dan sebagainya. Selain Bidang studi ini, bidang studi agama juga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat pengembangan belajar apresiasi siswa, misalnya dalam hal seni baca tulis Al-Qur’an.
Prinsip belajar
Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi Dalam suatu proses belajar, banyak segi yang sepatutnya dicapai sebagai hasil belajar, yaitu meliputi pengetahuan dan pemahaman tentang konsep, kemampuan menerapkan konsep, kemampuan menjabarkan dan menarik kesimpulan serta menilai kemanfaatan suatu konsep, menyenangi dan memberi respon yang positif terhadap sesuatu yang dipelajari, diperoleh kecakapan melakukan suatu kegiatan tertentu.
Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman Kemauan dan dorongan untuk melakukan kegiatan yang dapat memberi pengalaman belajar untuk mencapai pemahaman sepatutnya muncul dari dalam diri sendiri. Kemunculan hal tersebut disebabkan oleh adanya rangsangan yang datang dari luar lingkungan. Dalam kegiatan belajar mengajar, rangsangan dapat ditimbulkan dari guru dengan menyodorkan suatu materi pelajaran yang bersifat problematik yang menuntut upaya menemukan pemecahan melalui suatu proses pencarian dan penemuan atau proses pemecahan masalah.
Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan Dalam proses belajar, apa yang ingin dicapai sepatutnya dirasakan dan dimiliki oleh setiap siswa. Tujuan belajar bukan berarti tujuan pembelajaran, karena tujuan pembelajaran merupakan tujuan dan harapan yang ingin dicapai guru dari kegiatan yang dilakukan. Meskipun apa yang diinginkan guru atau yang diharapkan itu kemunculannya pada diri siswa, namun belum tentu apa yang diinginkan guru itu sesuai dengan apa yang diinginkan siswa.
Prinsip mengajar
Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa.
Apa yang telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari materi pembelajaran yang akan diajarkan. Oleh karena itu tingkat kemampuan siswa sebelum proses pembelajaran berlangsung harus diketahui guru. Tingkat kemampuan semacam ini di sebut entry behavior. Entry behavior dapat diketahui diantaranya dengan melakukan pra tes. Hal ini sangat penting agar proses pembelajaran dapat efektif dan efisien
Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis.
Materi–materi pembelajaran yang berkaitan dengan segi– egi kehidupan yang bersifat praktis pada umumnya dapat menarik minat siswa untuk mempelajari. Dengan mempelajari materi pembelajaran yang dikaitkan dengan hal itu perhatian yang bersifat khusus akan muncul, karena bisa jadi, materi pembelajaran yang sama, namun dikaitkan dengan kehidupan yang praktis akan memunculkan keterkaitan dengan seg segi tertentu yang sangat beragam.
PENUTUP
Ragam-ragam belajar antara lain : 1) Abstrak, 2) Keterampilan, 3) Social, 4) Pemecahan masalah, 5) Rasional, 6) Kebiasaan, 7) Apresiasi, 8) Pengetahuan
Prinsip pembelajaran terdiri dari
1) Prinsip belajar yang meliputi:
a) Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi,
b) Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman,
c) Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan.
dan Prinsip mengajar meliputi:
a) Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa,
b) Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis,
c) Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa,
d) Kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar,
e) Tujuan pembelajaran harus diketahui siswa, dan
f) Mengajar harus mengikuti prinsip psikologi tentang belajar
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Lukman. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : CV. Wacana Prima, 2008.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta : Rajawali Pers, 2009.
PSIKOLOGI BELAJAR
RAGAM BELAJAR
DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103
PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024
PENDAHULUAN
Dalam proses kegiatan belajar mengajar sebelumnya ada yang harus diperhatikan baik pengajar maupun peserta pendidik, salah satunya yaitu mengenai ragam-ragam pembelajaran. Hal tersebut penting sekali karena diharapkan nanti dalam proses belajar mengajar dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Untuk mempertemukan tujuan pembelajaran dapat di upayakan dengan cara mengkomunikasikan tujuan tersebut kepada siswa. Dampaknya memang berbeda–beda pada diri rangsangan agar siswa merumuskan sendiri apa yang diingikan atau diharapkan dari kegiatan belajar yang hendak dilakukan. Keanekaragaman belajar muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang bermacam–macam. Lebih jelasnya mengenai ragam-ragam pembelajaran akan diterangkan pada bab selanjutnya.
Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan interaksi yang dinamis antara pendidik yang melaksanakan tugas mengajar dengan anak didik yang melaksanakan kegiatan belajar. Proses interaksi ini sangat penting dalam kelangsungan proses belajar mengajar, karena dalam proses belajar mengajar pendidik menyampaikan suatu pesan berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan etika kepada para peserta didik melalui proses interaksi.
PEMBAHASAN
Hakekat Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Slameto menyatakan bahwa Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Selanjutnya Nana Sudjana mendefenisikan: “Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan suatu perubahan pada diri seseorang”. Perubahan yang dimaksud itu berupa hasil belajar yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk.
Teori Belajar
Pada mulanya teori-teori belajar dikembangkan oleh para ahli psikologi dan dicobakan tidak langsung kepada manusia di sekolah, melainkan menggunakan percobaan dengan binatang. Mereka beranggapan bahwa hasil percobaannya akan dapat diterapkan pada proses belajar-mengajar untuk manusia. Pada tingkat perkembangan berikutnya, baru para ahli mencurahkan perhatiannya pada proses belajar-mengajar untuk manusia di sekolah. Penelitian-penelitiannya yang tertuang dalam berbagai teori yang berbagai macam jenisnya. Teori-teori ini kemudian dikembangkan pada suatu stadium yang berdasar atas prinsip Conditioning, yakni pembentukan hubungan stimulus dan respons.
Macam-macam Ragam Belajar
Ragam Abstrak
Ragam belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat disamping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, astronomi, dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid.
Ragam sosial
Ragam belajar sosial pada dasarnya adalah belajar memahami masalahmasalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga, persahabatan, kelompok, dan masalah lainnya yang bersifat kemasyarakatan. Selain itu, belajar sosial juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional.
Ragam Pemecahan Masalah
Ragam belajar pemecahan masalah yaitu belajar menggunakan metodemetode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas dan tuntas.
Ragam Rasional
Ragam belajar Rasional ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah.
Ragam keterampilan
Ragam belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakangerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular). Tujuannya adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini latihan secara intensif dan teratur amat diperlukan. Termasuk dalam belajar ini misalnya belajar olahraga, musik, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik dan juga sebagian bidang studi agama seperti ibadah shalat dan haji.
Ragam Kebiasaan
Ragam belajar kebisaaan adalah proses pembentukan kebisaaan-kebisaaan baru atau perbaikan kebisaaan-kebisaaan yang telah ada. Belajar kebisaaan selain mengguanakan perintah, suri tauladan dan pengalaman khusus juga menggunakan ganjaran dan hukuman (reward & punishment). Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebisaaan-kebisaaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (konstektual) serta selaras dengan norma dan tata nilai yang berlaku, baik yang bersifat religious maupun yang bersifat kultural dan tradisional. Belajar kebisaaan lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga sebagaimana yang dimaksud oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 Bab VI Bagian keenam Pasal 27 (1). Namun demikian, tentu tidak tertutup kemungkinan penggunaan pelajaran agama sebagai sarana belajar kebisaaan bagi para siswa.
Ragam Apresiasi
Ragam belajar apresiasi merupakan belajar mempertimbangkan (judgement) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skill) dimana dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu, misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, apresiasi lukisan, benda sejarah dan sebagainya. Bidang-bidang studi yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan sastra, kerajinan tangan (prakarya), kesenian, menggambar, dan sebagainya. Selain Bidang studi ini, bidang studi agama juga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat pengembangan belajar apresiasi siswa, misalnya dalam hal seni baca tulis Al-Qur’an.
Prinsip belajar
Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi Dalam suatu proses belajar, banyak segi yang sepatutnya dicapai sebagai hasil belajar, yaitu meliputi pengetahuan dan pemahaman tentang konsep, kemampuan menerapkan konsep, kemampuan menjabarkan dan menarik kesimpulan serta menilai kemanfaatan suatu konsep, menyenangi dan memberi respon yang positif terhadap sesuatu yang dipelajari, diperoleh kecakapan melakukan suatu kegiatan tertentu.
Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman Kemauan dan dorongan untuk melakukan kegiatan yang dapat memberi pengalaman belajar untuk mencapai pemahaman sepatutnya muncul dari dalam diri sendiri. Kemunculan hal tersebut disebabkan oleh adanya rangsangan yang datang dari luar lingkungan. Dalam kegiatan belajar mengajar, rangsangan dapat ditimbulkan dari guru dengan menyodorkan suatu materi pelajaran yang bersifat problematik yang menuntut upaya menemukan pemecahan melalui suatu proses pencarian dan penemuan atau proses pemecahan masalah.
Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan Dalam proses belajar, apa yang ingin dicapai sepatutnya dirasakan dan dimiliki oleh setiap siswa. Tujuan belajar bukan berarti tujuan pembelajaran, karena tujuan pembelajaran merupakan tujuan dan harapan yang ingin dicapai guru dari kegiatan yang dilakukan. Meskipun apa yang diinginkan guru atau yang diharapkan itu kemunculannya pada diri siswa, namun belum tentu apa yang diinginkan guru itu sesuai dengan apa yang diinginkan siswa.
Prinsip mengajar
Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa.
Apa yang telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari materi pembelajaran yang akan diajarkan. Oleh karena itu tingkat kemampuan siswa sebelum proses pembelajaran berlangsung harus diketahui guru. Tingkat kemampuan semacam ini di sebut entry behavior. Entry behavior dapat diketahui diantaranya dengan melakukan pra tes. Hal ini sangat penting agar proses pembelajaran dapat efektif dan efisien
Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis.
Materi–materi pembelajaran yang berkaitan dengan segi– egi kehidupan yang bersifat praktis pada umumnya dapat menarik minat siswa untuk mempelajari. Dengan mempelajari materi pembelajaran yang dikaitkan dengan hal itu perhatian yang bersifat khusus akan muncul, karena bisa jadi, materi pembelajaran yang sama, namun dikaitkan dengan kehidupan yang praktis akan memunculkan keterkaitan dengan seg segi tertentu yang sangat beragam.
PENUTUP
Ragam-ragam belajar antara lain : 1) Abstrak, 2) Keterampilan, 3) Social, 4) Pemecahan masalah, 5) Rasional, 6) Kebiasaan, 7) Apresiasi, 8) Pengetahuan
Prinsip pembelajaran terdiri dari
1) Prinsip belajar yang meliputi:
a) Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi,
b) Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman,
c) Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan.
dan Prinsip mengajar meliputi:
a) Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa,
b) Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis,
c) Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa,
d) Kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar,
e) Tujuan pembelajaran harus diketahui siswa, dan
f) Mengajar harus mengikuti prinsip psikologi tentang belajar
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Lukman. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : CV. Wacana Prima, 2008.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta : Rajawali Pers, 2009.
PSIKOLOGI BELAJAR
RAGAM BELAJAR
DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103
PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024
PENDAHULUAN
Dalam proses kegiatan belajar mengajar sebelumnya ada yang harus diperhatikan baik pengajar maupun peserta pendidik, salah satunya yaitu mengenai ragam-ragam pembelajaran. Hal tersebut penting sekali karena diharapkan nanti dalam proses belajar mengajar dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Untuk mempertemukan tujuan pembelajaran dapat di upayakan dengan cara mengkomunikasikan tujuan tersebut kepada siswa. Dampaknya memang berbeda–beda pada diri rangsangan agar siswa merumuskan sendiri apa yang diingikan atau diharapkan dari kegiatan belajar yang hendak dilakukan. Keanekaragaman belajar muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang bermacam–macam. Lebih jelasnya mengenai ragam-ragam pembelajaran akan diterangkan pada bab selanjutnya.
Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan interaksi yang dinamis antara pendidik yang melaksanakan tugas mengajar dengan anak didik yang melaksanakan kegiatan belajar. Proses interaksi ini sangat penting dalam kelangsungan proses belajar mengajar, karena dalam proses belajar mengajar pendidik menyampaikan suatu pesan berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan etika kepada para peserta didik melalui proses interaksi.
PEMBAHASAN
Hakekat Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Slameto menyatakan bahwa Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Selanjutnya Nana Sudjana mendefenisikan: “Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan suatu perubahan pada diri seseorang”. Perubahan yang dimaksud itu berupa hasil belajar yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk.
Teori Belajar
Pada mulanya teori-teori belajar dikembangkan oleh para ahli psikologi dan dicobakan tidak langsung kepada manusia di sekolah, melainkan menggunakan percobaan dengan binatang. Mereka beranggapan bahwa hasil percobaannya akan dapat diterapkan pada proses belajar-mengajar untuk manusia. Pada tingkat perkembangan berikutnya, baru para ahli mencurahkan perhatiannya pada proses belajar-mengajar untuk manusia di sekolah. Penelitian-penelitiannya yang tertuang dalam berbagai teori yang berbagai macam jenisnya. Teori-teori ini kemudian dikembangkan pada suatu stadium yang berdasar atas prinsip Conditioning, yakni pembentukan hubungan stimulus dan respons.
Macam-macam Ragam Belajar
Ragam Abstrak
Ragam belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat disamping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, astronomi, dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid.
Ragam sosial
Ragam belajar sosial pada dasarnya adalah belajar memahami masalahmasalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga, persahabatan, kelompok, dan masalah lainnya yang bersifat kemasyarakatan. Selain itu, belajar sosial juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional.
Ragam Pemecahan Masalah
Ragam belajar pemecahan masalah yaitu belajar menggunakan metodemetode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas dan tuntas.
Ragam Rasional
Ragam belajar Rasional ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah.
Ragam keterampilan
Ragam belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakangerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular). Tujuannya adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini latihan secara intensif dan teratur amat diperlukan. Termasuk dalam belajar ini misalnya belajar olahraga, musik, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik dan juga sebagian bidang studi agama seperti ibadah shalat dan haji.
Ragam Kebiasaan
Ragam belajar kebisaaan adalah proses pembentukan kebisaaan-kebisaaan baru atau perbaikan kebisaaan-kebisaaan yang telah ada. Belajar kebisaaan selain mengguanakan perintah, suri tauladan dan pengalaman khusus juga menggunakan ganjaran dan hukuman (reward & punishment). Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebisaaan-kebisaaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (konstektual) serta selaras dengan norma dan tata nilai yang berlaku, baik yang bersifat religious maupun yang bersifat kultural dan tradisional. Belajar kebisaaan lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga sebagaimana yang dimaksud oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 Bab VI Bagian keenam Pasal 27 (1). Namun demikian, tentu tidak tertutup kemungkinan penggunaan pelajaran agama sebagai sarana belajar kebisaaan bagi para siswa.
Ragam Apresiasi
Ragam belajar apresiasi merupakan belajar mempertimbangkan (judgement) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skill) dimana dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu, misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, apresiasi lukisan, benda sejarah dan sebagainya. Bidang-bidang studi yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan sastra, kerajinan tangan (prakarya), kesenian, menggambar, dan sebagainya. Selain Bidang studi ini, bidang studi agama juga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat pengembangan belajar apresiasi siswa, misalnya dalam hal seni baca tulis Al-Qur’an.
Prinsip belajar
Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi Dalam suatu proses belajar, banyak segi yang sepatutnya dicapai sebagai hasil belajar, yaitu meliputi pengetahuan dan pemahaman tentang konsep, kemampuan menerapkan konsep, kemampuan menjabarkan dan menarik kesimpulan serta menilai kemanfaatan suatu konsep, menyenangi dan memberi respon yang positif terhadap sesuatu yang dipelajari, diperoleh kecakapan melakukan suatu kegiatan tertentu.
Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman Kemauan dan dorongan untuk melakukan kegiatan yang dapat memberi pengalaman belajar untuk mencapai pemahaman sepatutnya muncul dari dalam diri sendiri. Kemunculan hal tersebut disebabkan oleh adanya rangsangan yang datang dari luar lingkungan. Dalam kegiatan belajar mengajar, rangsangan dapat ditimbulkan dari guru dengan menyodorkan suatu materi pelajaran yang bersifat problematik yang menuntut upaya menemukan pemecahan melalui suatu proses pencarian dan penemuan atau proses pemecahan masalah.
Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan Dalam proses belajar, apa yang ingin dicapai sepatutnya dirasakan dan dimiliki oleh setiap siswa. Tujuan belajar bukan berarti tujuan pembelajaran, karena tujuan pembelajaran merupakan tujuan dan harapan yang ingin dicapai guru dari kegiatan yang dilakukan. Meskipun apa yang diinginkan guru atau yang diharapkan itu kemunculannya pada diri siswa, namun belum tentu apa yang diinginkan guru itu sesuai dengan apa yang diinginkan siswa.
Prinsip mengajar
Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa.
Apa yang telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari materi pembelajaran yang akan diajarkan. Oleh karena itu tingkat kemampuan siswa sebelum proses pembelajaran berlangsung harus diketahui guru. Tingkat kemampuan semacam ini di sebut entry behavior. Entry behavior dapat diketahui diantaranya dengan melakukan pra tes. Hal ini sangat penting agar proses pembelajaran dapat efektif dan efisien
Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis.
Materi–materi pembelajaran yang berkaitan dengan segi– egi kehidupan yang bersifat praktis pada umumnya dapat menarik minat siswa untuk mempelajari. Dengan mempelajari materi pembelajaran yang dikaitkan dengan hal itu perhatian yang bersifat khusus akan muncul, karena bisa jadi, materi pembelajaran yang sama, namun dikaitkan dengan kehidupan yang praktis akan memunculkan keterkaitan dengan seg segi tertentu yang sangat beragam.
PENUTUP
Ragam-ragam belajar antara lain : 1) Abstrak, 2) Keterampilan, 3) Social, 4) Pemecahan masalah, 5) Rasional, 6) Kebiasaan, 7) Apresiasi, 8) Pengetahuan
Prinsip pembelajaran terdiri dari
1) Prinsip belajar yang meliputi:
a) Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi,
b) Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman,
c) Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan.
dan Prinsip mengajar meliputi:
a) Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa,
b) Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis,
c) Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa,
d) Kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar,
e) Tujuan pembelajaran harus diketahui siswa, dan
f) Mengajar harus mengikuti prinsip psikologi tentang belajar
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Lukman. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : CV. Wacana Prima, 2008.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta : Rajawali Pers, 2009.
PSIKOLOGI BELAJAR
RAGAM BELAJAR
DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103
PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024
PENDAHULUAN
Dalam proses kegiatan belajar mengajar sebelumnya ada yang harus diperhatikan baik pengajar maupun peserta pendidik, salah satunya yaitu mengenai ragam-ragam pembelajaran. Hal tersebut penting sekali karena diharapkan nanti dalam proses belajar mengajar dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Untuk mempertemukan tujuan pembelajaran dapat di upayakan dengan cara mengkomunikasikan tujuan tersebut kepada siswa. Dampaknya memang berbeda–beda pada diri rangsangan agar siswa merumuskan sendiri apa yang diingikan atau diharapkan dari kegiatan belajar yang hendak dilakukan. Keanekaragaman belajar muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang bermacam–macam. Lebih jelasnya mengenai ragam-ragam pembelajaran akan diterangkan pada bab selanjutnya.
Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan interaksi yang dinamis antara pendidik yang melaksanakan tugas mengajar dengan anak didik yang melaksanakan kegiatan belajar. Proses interaksi ini sangat penting dalam kelangsungan proses belajar mengajar, karena dalam proses belajar mengajar pendidik menyampaikan suatu pesan berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan etika kepada para peserta didik melalui proses interaksi.
PEMBAHASAN
Hakekat Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Slameto menyatakan bahwa Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Selanjutnya Nana Sudjana mendefenisikan: “Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan suatu perubahan pada diri seseorang”. Perubahan yang dimaksud itu berupa hasil belajar yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk.
Teori Belajar
Pada mulanya teori-teori belajar dikembangkan oleh para ahli psikologi dan dicobakan tidak langsung kepada manusia di sekolah, melainkan menggunakan percobaan dengan binatang. Mereka beranggapan bahwa hasil percobaannya akan dapat diterapkan pada proses belajar-mengajar untuk manusia. Pada tingkat perkembangan berikutnya, baru para ahli mencurahkan perhatiannya pada proses belajar-mengajar untuk manusia di sekolah. Penelitian-penelitiannya yang tertuang dalam berbagai teori yang berbagai macam jenisnya. Teori-teori ini kemudian dikembangkan pada suatu stadium yang berdasar atas prinsip Conditioning, yakni pembentukan hubungan stimulus dan respons.
Macam-macam Ragam Belajar
Ragam Abstrak
Ragam belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat disamping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, astronomi, dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid.
Ragam sosial
Ragam belajar sosial pada dasarnya adalah belajar memahami masalahmasalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga, persahabatan, kelompok, dan masalah lainnya yang bersifat kemasyarakatan. Selain itu, belajar sosial juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional.
Ragam Pemecahan Masalah
Ragam belajar pemecahan masalah yaitu belajar menggunakan metodemetode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas dan tuntas.
Ragam Rasional
Ragam belajar Rasional ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah.
Ragam keterampilan
Ragam belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakangerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular). Tujuannya adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini latihan secara intensif dan teratur amat diperlukan. Termasuk dalam belajar ini misalnya belajar olahraga, musik, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik dan juga sebagian bidang studi agama seperti ibadah shalat dan haji.
Ragam Kebiasaan
Ragam belajar kebisaaan adalah proses pembentukan kebisaaan-kebisaaan baru atau perbaikan kebisaaan-kebisaaan yang telah ada. Belajar kebisaaan selain mengguanakan perintah, suri tauladan dan pengalaman khusus juga menggunakan ganjaran dan hukuman (reward & punishment). Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebisaaan-kebisaaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (konstektual) serta selaras dengan norma dan tata nilai yang berlaku, baik yang bersifat religious maupun yang bersifat kultural dan tradisional. Belajar kebisaaan lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga sebagaimana yang dimaksud oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 Bab VI Bagian keenam Pasal 27 (1). Namun demikian, tentu tidak tertutup kemungkinan penggunaan pelajaran agama sebagai sarana belajar kebisaaan bagi para siswa.
Ragam Apresiasi
Ragam belajar apresiasi merupakan belajar mempertimbangkan (judgement) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skill) dimana dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu, misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, apresiasi lukisan, benda sejarah dan sebagainya. Bidang-bidang studi yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan sastra, kerajinan tangan (prakarya), kesenian, menggambar, dan sebagainya. Selain Bidang studi ini, bidang studi agama juga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat pengembangan belajar apresiasi siswa, misalnya dalam hal seni baca tulis Al-Qur’an.
Prinsip belajar
Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi Dalam suatu proses belajar, banyak segi yang sepatutnya dicapai sebagai hasil belajar, yaitu meliputi pengetahuan dan pemahaman tentang konsep, kemampuan menerapkan konsep, kemampuan menjabarkan dan menarik kesimpulan serta menilai kemanfaatan suatu konsep, menyenangi dan memberi respon yang positif terhadap sesuatu yang dipelajari, diperoleh kecakapan melakukan suatu kegiatan tertentu.
Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman Kemauan dan dorongan untuk melakukan kegiatan yang dapat memberi pengalaman belajar untuk mencapai pemahaman sepatutnya muncul dari dalam diri sendiri. Kemunculan hal tersebut disebabkan oleh adanya rangsangan yang datang dari luar lingkungan. Dalam kegiatan belajar mengajar, rangsangan dapat ditimbulkan dari guru dengan menyodorkan suatu materi pelajaran yang bersifat problematik yang menuntut upaya menemukan pemecahan melalui suatu proses pencarian dan penemuan atau proses pemecahan masalah.
Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan Dalam proses belajar, apa yang ingin dicapai sepatutnya dirasakan dan dimiliki oleh setiap siswa. Tujuan belajar bukan berarti tujuan pembelajaran, karena tujuan pembelajaran merupakan tujuan dan harapan yang ingin dicapai guru dari kegiatan yang dilakukan. Meskipun apa yang diinginkan guru atau yang diharapkan itu kemunculannya pada diri siswa, namun belum tentu apa yang diinginkan guru itu sesuai dengan apa yang diinginkan siswa.
Prinsip mengajar
Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa.
Apa yang telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari materi pembelajaran yang akan diajarkan. Oleh karena itu tingkat kemampuan siswa sebelum proses pembelajaran berlangsung harus diketahui guru. Tingkat kemampuan semacam ini di sebut entry behavior. Entry behavior dapat diketahui diantaranya dengan melakukan pra tes. Hal ini sangat penting agar proses pembelajaran dapat efektif dan efisien
Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis.
Materi–materi pembelajaran yang berkaitan dengan segi– egi kehidupan yang bersifat praktis pada umumnya dapat menarik minat siswa untuk mempelajari. Dengan mempelajari materi pembelajaran yang dikaitkan dengan hal itu perhatian yang bersifat khusus akan muncul, karena bisa jadi, materi pembelajaran yang sama, namun dikaitkan dengan kehidupan yang praktis akan memunculkan keterkaitan dengan seg segi tertentu yang sangat beragam.
PENUTUP
Ragam-ragam belajar antara lain : 1) Abstrak, 2) Keterampilan, 3) Social, 4) Pemecahan masalah, 5) Rasional, 6) Kebiasaan, 7) Apresiasi, 8) Pengetahuan
Prinsip pembelajaran terdiri dari
1) Prinsip belajar yang meliputi:
a) Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi,
b) Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman,
c) Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan.
dan Prinsip mengajar meliputi:
a) Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa,
b) Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis,
c) Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa,
d) Kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar,
e) Tujuan pembelajaran harus diketahui siswa, dan
f) Mengajar harus mengikuti prinsip psikologi tentang belajar
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Lukman. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : CV. Wacana Prima, 2008.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta : Rajawali Pers, 2009.
PSIKOLOGI BELAJAR
RAGAM BELAJAR
DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103
PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024
PENDAHULUAN
Dalam proses kegiatan belajar mengajar sebelumnya ada yang harus diperhatikan baik pengajar maupun peserta pendidik, salah satunya yaitu mengenai ragam-ragam pembelajaran. Hal tersebut penting sekali karena diharapkan nanti dalam proses belajar mengajar dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Untuk mempertemukan tujuan pembelajaran dapat di upayakan dengan cara mengkomunikasikan tujuan tersebut kepada siswa. Dampaknya memang berbeda–beda pada diri rangsangan agar siswa merumuskan sendiri apa yang diingikan atau diharapkan dari kegiatan belajar yang hendak dilakukan. Keanekaragaman belajar muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang bermacam–macam. Lebih jelasnya mengenai ragam-ragam pembelajaran akan diterangkan pada bab selanjutnya.
Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan interaksi yang dinamis antara pendidik yang melaksanakan tugas mengajar dengan anak didik yang melaksanakan kegiatan belajar. Proses interaksi ini sangat penting dalam kelangsungan proses belajar mengajar, karena dalam proses belajar mengajar pendidik menyampaikan suatu pesan berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan etika kepada para peserta didik melalui proses interaksi.
PEMBAHASAN
Hakekat Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Slameto menyatakan bahwa Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Selanjutnya Nana Sudjana mendefenisikan: “Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan suatu perubahan pada diri seseorang”. Perubahan yang dimaksud itu berupa hasil belajar yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk.
Teori Belajar
Pada mulanya teori-teori belajar dikembangkan oleh para ahli psikologi dan dicobakan tidak langsung kepada manusia di sekolah, melainkan menggunakan percobaan dengan binatang. Mereka beranggapan bahwa hasil percobaannya akan dapat diterapkan pada proses belajar-mengajar untuk manusia. Pada tingkat perkembangan berikutnya, baru para ahli mencurahkan perhatiannya pada proses belajar-mengajar untuk manusia di sekolah. Penelitian-penelitiannya yang tertuang dalam berbagai teori yang berbagai macam jenisnya. Teori-teori ini kemudian dikembangkan pada suatu stadium yang berdasar atas prinsip Conditioning, yakni pembentukan hubungan stimulus dan respons.
Macam-macam Ragam Belajar
Ragam Abstrak
Ragam belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat disamping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, astronomi, dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid.
Ragam sosial
Ragam belajar sosial pada dasarnya adalah belajar memahami masalahmasalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga, persahabatan, kelompok, dan masalah lainnya yang bersifat kemasyarakatan. Selain itu, belajar sosial juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional.
Ragam Pemecahan Masalah
Ragam belajar pemecahan masalah yaitu belajar menggunakan metodemetode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas dan tuntas.
Ragam Rasional
Ragam belajar Rasional ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah.
Ragam keterampilan
Ragam belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakangerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular). Tujuannya adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini latihan secara intensif dan teratur amat diperlukan. Termasuk dalam belajar ini misalnya belajar olahraga, musik, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik dan juga sebagian bidang studi agama seperti ibadah shalat dan haji.
Ragam Kebiasaan
Ragam belajar kebisaaan adalah proses pembentukan kebisaaan-kebisaaan baru atau perbaikan kebisaaan-kebisaaan yang telah ada. Belajar kebisaaan selain mengguanakan perintah, suri tauladan dan pengalaman khusus juga menggunakan ganjaran dan hukuman (reward & punishment). Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebisaaan-kebisaaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (konstektual) serta selaras dengan norma dan tata nilai yang berlaku, baik yang bersifat religious maupun yang bersifat kultural dan tradisional. Belajar kebisaaan lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga sebagaimana yang dimaksud oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 Bab VI Bagian keenam Pasal 27 (1). Namun demikian, tentu tidak tertutup kemungkinan penggunaan pelajaran agama sebagai sarana belajar kebisaaan bagi para siswa.
Ragam Apresiasi
Ragam belajar apresiasi merupakan belajar mempertimbangkan (judgement) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skill) dimana dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu, misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, apresiasi lukisan, benda sejarah dan sebagainya. Bidang-bidang studi yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan sastra, kerajinan tangan (prakarya), kesenian, menggambar, dan sebagainya. Selain Bidang studi ini, bidang studi agama juga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat pengembangan belajar apresiasi siswa, misalnya dalam hal seni baca tulis Al-Qur’an.
Prinsip belajar
Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi Dalam suatu proses belajar, banyak segi yang sepatutnya dicapai sebagai hasil belajar, yaitu meliputi pengetahuan dan pemahaman tentang konsep, kemampuan menerapkan konsep, kemampuan menjabarkan dan menarik kesimpulan serta menilai kemanfaatan suatu konsep, menyenangi dan memberi respon yang positif terhadap sesuatu yang dipelajari, diperoleh kecakapan melakukan suatu kegiatan tertentu.
Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman Kemauan dan dorongan untuk melakukan kegiatan yang dapat memberi pengalaman belajar untuk mencapai pemahaman sepatutnya muncul dari dalam diri sendiri. Kemunculan hal tersebut disebabkan oleh adanya rangsangan yang datang dari luar lingkungan. Dalam kegiatan belajar mengajar, rangsangan dapat ditimbulkan dari guru dengan menyodorkan suatu materi pelajaran yang bersifat problematik yang menuntut upaya menemukan pemecahan melalui suatu proses pencarian dan penemuan atau proses pemecahan masalah.
Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan Dalam proses belajar, apa yang ingin dicapai sepatutnya dirasakan dan dimiliki oleh setiap siswa. Tujuan belajar bukan berarti tujuan pembelajaran, karena tujuan pembelajaran merupakan tujuan dan harapan yang ingin dicapai guru dari kegiatan yang dilakukan. Meskipun apa yang diinginkan guru atau yang diharapkan itu kemunculannya pada diri siswa, namun belum tentu apa yang diinginkan guru itu sesuai dengan apa yang diinginkan siswa.
Prinsip mengajar
Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa.
Apa yang telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari materi pembelajaran yang akan diajarkan. Oleh karena itu tingkat kemampuan siswa sebelum proses pembelajaran berlangsung harus diketahui guru. Tingkat kemampuan semacam ini di sebut entry behavior. Entry behavior dapat diketahui diantaranya dengan melakukan pra tes. Hal ini sangat penting agar proses pembelajaran dapat efektif dan efisien
Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis.
Materi–materi pembelajaran yang berkaitan dengan segi– egi kehidupan yang bersifat praktis pada umumnya dapat menarik minat siswa untuk mempelajari. Dengan mempelajari materi pembelajaran yang dikaitkan dengan hal itu perhatian yang bersifat khusus akan muncul, karena bisa jadi, materi pembelajaran yang sama, namun dikaitkan dengan kehidupan yang praktis akan memunculkan keterkaitan dengan seg segi tertentu yang sangat beragam.
PENUTUP
Ragam-ragam belajar antara lain : 1) Abstrak, 2) Keterampilan, 3) Social, 4) Pemecahan masalah, 5) Rasional, 6) Kebiasaan, 7) Apresiasi, 8) Pengetahuan
Prinsip pembelajaran terdiri dari
1) Prinsip belajar yang meliputi:
a) Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi,
b) Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman,
c) Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan.
dan Prinsip mengajar meliputi:
a) Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa,
b) Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis,
c) Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa,
d) Kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar,
e) Tujuan pembelajaran harus diketahui siswa, dan
f) Mengajar harus mengikuti prinsip psikologi tentang belajar
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Lukman. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : CV. Wacana Prima, 2008.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta : Rajawali Pers, 2009.
DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103
PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024
PENDAHULUAN
Dalam proses kegiatan belajar mengajar sebelumnya ada yang harus diperhatikan baik pengajar maupun peserta pendidik, salah satunya yaitu mengenai ragam-ragam pembelajaran. Hal tersebut penting sekali karena diharapkan nanti dalam proses belajar mengajar dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Untuk mempertemukan tujuan pembelajaran dapat di upayakan dengan cara mengkomunikasikan tujuan tersebut kepada siswa. Dampaknya memang berbeda–beda pada diri rangsangan agar siswa merumuskan sendiri apa yang diingikan atau diharapkan dari kegiatan belajar yang hendak dilakukan. Keanekaragaman belajar muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang bermacam–macam. Lebih jelasnya mengenai ragam-ragam pembelajaran akan diterangkan pada bab selanjutnya.
Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan interaksi yang dinamis antara pendidik yang melaksanakan tugas mengajar dengan anak didik yang melaksanakan kegiatan belajar. Proses interaksi ini sangat penting dalam kelangsungan proses belajar mengajar, karena dalam proses belajar mengajar pendidik menyampaikan suatu pesan berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan etika kepada para peserta didik melalui proses interaksi.
PEMBAHASAN
Hakekat Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Slameto menyatakan bahwa Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Selanjutnya Nana Sudjana mendefenisikan: “Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan suatu perubahan pada diri seseorang”. Perubahan yang dimaksud itu berupa hasil belajar yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk.
Teori Belajar
Pada mulanya teori-teori belajar dikembangkan oleh para ahli psikologi dan dicobakan tidak langsung kepada manusia di sekolah, melainkan menggunakan percobaan dengan binatang. Mereka beranggapan bahwa hasil percobaannya akan dapat diterapkan pada proses belajar-mengajar untuk manusia. Pada tingkat perkembangan berikutnya, baru para ahli mencurahkan perhatiannya pada proses belajar-mengajar untuk manusia di sekolah. Penelitian-penelitiannya yang tertuang dalam berbagai teori yang berbagai macam jenisnya. Teori-teori ini kemudian dikembangkan pada suatu stadium yang berdasar atas prinsip Conditioning, yakni pembentukan hubungan stimulus dan respons.
Macam-macam Ragam Belajar
Ragam Abstrak
Ragam belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat disamping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, astronomi, dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid.
Ragam sosial
Ragam belajar sosial pada dasarnya adalah belajar memahami masalahmasalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga, persahabatan, kelompok, dan masalah lainnya yang bersifat kemasyarakatan. Selain itu, belajar sosial juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional.
Ragam Pemecahan Masalah
Ragam belajar pemecahan masalah yaitu belajar menggunakan metodemetode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas dan tuntas.
Ragam Rasional
Ragam belajar Rasional ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah.
Ragam keterampilan
Ragam belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakangerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular). Tujuannya adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini latihan secara intensif dan teratur amat diperlukan. Termasuk dalam belajar ini misalnya belajar olahraga, musik, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik dan juga sebagian bidang studi agama seperti ibadah shalat dan haji.
Ragam Kebiasaan
Ragam belajar kebisaaan adalah proses pembentukan kebisaaan-kebisaaan baru atau perbaikan kebisaaan-kebisaaan yang telah ada. Belajar kebisaaan selain mengguanakan perintah, suri tauladan dan pengalaman khusus juga menggunakan ganjaran dan hukuman (reward & punishment). Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebisaaan-kebisaaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (konstektual) serta selaras dengan norma dan tata nilai yang berlaku, baik yang bersifat religious maupun yang bersifat kultural dan tradisional. Belajar kebisaaan lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga sebagaimana yang dimaksud oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 Bab VI Bagian keenam Pasal 27 (1). Namun demikian, tentu tidak tertutup kemungkinan penggunaan pelajaran agama sebagai sarana belajar kebisaaan bagi para siswa.
Ragam Apresiasi
Ragam belajar apresiasi merupakan belajar mempertimbangkan (judgement) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skill) dimana dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu, misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, apresiasi lukisan, benda sejarah dan sebagainya. Bidang-bidang studi yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan sastra, kerajinan tangan (prakarya), kesenian, menggambar, dan sebagainya. Selain Bidang studi ini, bidang studi agama juga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat pengembangan belajar apresiasi siswa, misalnya dalam hal seni baca tulis Al-Qur’an.
Prinsip belajar
Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi Dalam suatu proses belajar, banyak segi yang sepatutnya dicapai sebagai hasil belajar, yaitu meliputi pengetahuan dan pemahaman tentang konsep, kemampuan menerapkan konsep, kemampuan menjabarkan dan menarik kesimpulan serta menilai kemanfaatan suatu konsep, menyenangi dan memberi respon yang positif terhadap sesuatu yang dipelajari, diperoleh kecakapan melakukan suatu kegiatan tertentu.
Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman Kemauan dan dorongan untuk melakukan kegiatan yang dapat memberi pengalaman belajar untuk mencapai pemahaman sepatutnya muncul dari dalam diri sendiri. Kemunculan hal tersebut disebabkan oleh adanya rangsangan yang datang dari luar lingkungan. Dalam kegiatan belajar mengajar, rangsangan dapat ditimbulkan dari guru dengan menyodorkan suatu materi pelajaran yang bersifat problematik yang menuntut upaya menemukan pemecahan melalui suatu proses pencarian dan penemuan atau proses pemecahan masalah.
Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan Dalam proses belajar, apa yang ingin dicapai sepatutnya dirasakan dan dimiliki oleh setiap siswa. Tujuan belajar bukan berarti tujuan pembelajaran, karena tujuan pembelajaran merupakan tujuan dan harapan yang ingin dicapai guru dari kegiatan yang dilakukan. Meskipun apa yang diinginkan guru atau yang diharapkan itu kemunculannya pada diri siswa, namun belum tentu apa yang diinginkan guru itu sesuai dengan apa yang diinginkan siswa.
Prinsip mengajar
Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa.
Apa yang telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari materi pembelajaran yang akan diajarkan. Oleh karena itu tingkat kemampuan siswa sebelum proses pembelajaran berlangsung harus diketahui guru. Tingkat kemampuan semacam ini di sebut entry behavior. Entry behavior dapat diketahui diantaranya dengan melakukan pra tes. Hal ini sangat penting agar proses pembelajaran dapat efektif dan efisien
Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis.
Materi–materi pembelajaran yang berkaitan dengan segi– egi kehidupan yang bersifat praktis pada umumnya dapat menarik minat siswa untuk mempelajari. Dengan mempelajari materi pembelajaran yang dikaitkan dengan hal itu perhatian yang bersifat khusus akan muncul, karena bisa jadi, materi pembelajaran yang sama, namun dikaitkan dengan kehidupan yang praktis akan memunculkan keterkaitan dengan seg segi tertentu yang sangat beragam.
PENUTUP
Ragam-ragam belajar antara lain : 1) Abstrak, 2) Keterampilan, 3) Social, 4) Pemecahan masalah, 5) Rasional, 6) Kebiasaan, 7) Apresiasi, 8) Pengetahuan
Prinsip pembelajaran terdiri dari
1) Prinsip belajar yang meliputi:
a) Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi,
b) Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman,
c) Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan.
dan Prinsip mengajar meliputi:
a) Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa,
b) Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis,
c) Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa,
d) Kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar,
e) Tujuan pembelajaran harus diketahui siswa, dan
f) Mengajar harus mengikuti prinsip psikologi tentang belajar
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Lukman. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : CV. Wacana Prima, 2008.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta : Rajawali Pers, 2009.