KONSEP DALAM BELAJAR PSIKOLOGI

KONSEP DALAM BELAJAR PSIKOLOGI

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Proses pendidikan sudah dimulai sejak pertama kali manusia dilahirkan. Dalam hal ini, orang tua berperan sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Orang tua melakukan usaha-usaha pendidikan terhadap anaknya meskipun masih dengan cara yang sederhana. Semakin manusia beranjak dewasa, usaha-usaha pendidikan yang dilakukan kian beragam. Orang tua tidak lagi mendidik anaknya sendiri di rumah, melainkan mendaftarkan anaknya menjadi peserta didik dalam suatu sekolah demi perkembangan sang anak yang lebih baik. Tugas mendidik anak pun yang semula milik orang tua kini dibantu oleh guru sebagai pendidik dalam lingkungan pendidikan yang sistematis yaitu lingkungan sekolah.
Hal ini yang perlu dipahami oleh setiap pendidik agar tidak tidak salah melangkah dalam melakukan usaha-usaha pendidikan. Usaha-usaha pendidikan harus disesuaikan dengan tingkat perkembangannya agar peserta didik dapat berkembang dengan baik. Sebagai pendidik yang bertanggung jawab untuk mendidik dan membimbing peserta didik selama berada di lingkungan sekolah, tentu harus memahami perkembangan yang dialami peserta didik sehingga usaha-usaha pendidikan yang dilakukan dapat sesuai dengan keadaan perkembangan peserta didik. Dalam hal ini, peran psikologi amat dibutuhkan guna membantu pendidik dalam memahami perkembangan peserta didik.

PEMBAHASAN
Konsep dasar psikologi yang utama tentang sejarah psikologi. Dilihat dari segi sejarah, memang psikologi salah satu cabang ilmu yang dikembangkan oleh filosof. Dimana lahirnya psikologi hadir karena rasa munculnya pertanyaan tentang kebutuhan hidup manusia dan rasa penasaran akan akal pikiran serta tingkah laku manusia.Itu sebabnya ilmu psikologi lebih sering dikaitkan dengan kehidupan organisme manusia. Kemudian mempelajari lebih banyak tentang perilaku, perasaan, emosi dan apapun elemen yang dilakukan oleh manusia. Segala sesuatu yang terjadi dan yang dilakukan oleh manusia dikembangkan dan diteliti.
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari semua tingkah laku individu atau peserta didik yang tidak dapat dilepaskan dari proses lingkungan dan yang terjadi dalam diri individu tersebut yang disebut sebagai proses mental (Saleh, 2018, hlm. 8). Proses mental dapat dipahami sebagai kondisi atau gejala yang terjadi dalam diri individu yang menjadi motor penggerak. psikologi merupakan ilmu yang melakukan studi ilmiah terhadap perilaku manusia? Mengapa Warsah & Daheri mengatakan makhluk hidup yang dapat mengandung implikasi bahwa psikologi dapat melibatkan hewan pula? Simpulan tersebut diambil karena pada mulanya, psikologi digunakan para ilmuwan dan para filosof sebagaimana disebutkan oleh Reber (dalam Warsah & Daheri, 2021, hlm. 3) untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam memahami akal pikiran dan tingkah laku aneka ragam makhluk hidup mulai yang primitif sampai yang paling modern.
Objek dan kajian Psikologi Pendidikan
Pada zaman Yunani, objek formal kajian psikologi adalah hakikat jiwa, namun pada era Decrates objek formal ini berubah menjadi gejala-gejala kesadaran. Selanjutnya, ketika aliran Behaviorisme muncul di Amerika pada permulaan abad ke-20, yang tampak menjadi objeknya ialah tingkah laku manusia yang tampak (lahiriah). Sedangkan aliran psikologi yang dipelopori oleh Freud, objeknya adalah gejala-gejala ketidaksadaran manusia. Manusia merupakan makhluk yang sangat kompleks dan unik sifatnya (Fatuhurrohman, 2016). Dengan demikian, objek psikologi akan sangat bergantung pada objek material yang dibahas dan perlukan dalam studinya. Misalnya, dalam ilmu sosial dan ilmu psikologi mempunyai objek material sama, yaitu manusia. Akan tetapi objek formalnya berbeda, karena ilmu sosial membahas manusia dari sudut pembahasan kehidupan individu dan interaksinya antar masyarakat, sedangkan ilmu psikologi membahas manusia dari sudut pembahasan jiwa dan pikiran dari individu itu sendiri.
Psikologi umum adalah psikologi yang menyelidiki dan mempelajari kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas psikis manusia pada umumnya yang dewasa, yang normal dan yang beradab (berkultur) (Saleh, 2018, hlm. 24). Selain itu, psikologi umum juga memandang manusia seakan-akan terlepas dari manusia yang lain. Psikologi umum berusaha mencari dalil-dalil yang bersifat umum daripada kegiatan-kegiatan atau aktivitas psikis.
Psikologi khusus adalah psikologi yang menyelidiki dan mempelajari segi-segi kekhususan dari aktivitas-aktivitas psikis manusia berupa hal-hal yang menyimpang dari psikologi itu sendiri, misalnya psikologi pendidikan, psikologi kriminal, psikologi kepribadian, dan sebagainya.
Manfaat Mempelajari Psikologis
Mempelajari sikologi ternyata juga memiliki manfaatnya. Manfaat ini pulalah yang sebenarnya juga termasuk ke dalam konsep dasar psikologi. Lalu apa saja sih manfaat mempelajari psikologi? menguasai dan mempelajari tentang gejala jiwa, mempelajari tingkah laku manusia secara umum dan secara khusus.Setidaknya dengna menguasai dan memahami konsep dasar psikologi lakan memudahkan kita dalam menganalisis seseorang ataupun menilai diri sendiri dengan baik. Secara tidak langsung pula, belajar psikologi mampu meningkatkan kepekaan kita terhadap lingkungan dan orang-orang disekitar kita. Sehingga juga akan mempengaruhi perilaku, sikap, cara berfikir dan daya analisis kita. Adapun manfaat lain mempelajari konsep dasar psikologi dalam kehidupan sehari-hari. Ada dua bentuk kemanfaatan, yaitu manfaat psikologi teoritis. Psikologi teoritis salah satu ilmu yang tidak hanya mempelajari kejiwaan dan mempelajari gejala seseorang saja.

. Faktor yang mempengaruhi psikologi Pendidikan
Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan peserta didik, motivasi, dan minatnya.
Kecerdasan
Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik dalam mereaksikan rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan demikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ-organ tubuh lainnya. Namun bila dikaitkan dengan kecerdasan, tentunya otak merupakan organ yang penting dibandingkan organ yang lain, karena fungsi otak itu sebagai organ pengendali tertinggi (executive control) dari hampir seluruh aktivitas manusia.
Motivasi
Motivasi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar peserta didik. Motivasilah yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat. Motivasi juga diartikan sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan arah perilaku seseorang.
Minat
Secara sederhana, minat (interest) nerrti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. minat bukanlah istilah yang popular dalam psikologi disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai faktor internal lainnya, seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.
PENUTUP
Psikologi pendidikan merupakan suatu cabang ilmu yang membahas tingkah laku peserta didik pada proses pendidikan sehingga mampu menyelesaikan masalah-masalah pendidikan. Fungsi psikologi pendidikan dalam proses belajar-mengajar tidak hanya mencakup peningkatan mutu belajar peserta didik dalam kaitan dengan perkembangan psikisnya namun juga mempelajari perkembangan peserta didik dalam interaksinya dengan pelajaran dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembelajaran dalam pendekatan- pendekatan yang dapat mempengaruhi pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA
Saleh, A.A. (2018). Pengantar psikologi. Makassar: Penerbit Aksara Timur.
Warsah, I., Daheri, M. (2021). Psikologi: suatu pengantar. Yogyakarta: Tunas Gemilang Press.

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Proses pendidikan sudah dimulai sejak pertama kali manusia dilahirkan. Dalam hal ini, orang tua berperan sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Orang tua melakukan usaha-usaha pendidikan terhadap anaknya meskipun masih dengan cara yang sederhana. Semakin manusia beranjak dewasa, usaha-usaha pendidikan yang dilakukan kian beragam. Orang tua tidak lagi mendidik anaknya sendiri di rumah, melainkan mendaftarkan anaknya menjadi peserta didik dalam suatu sekolah demi perkembangan sang anak yang lebih baik. Tugas mendidik anak pun yang semula milik orang tua kini dibantu oleh guru sebagai pendidik dalam lingkungan pendidikan yang sistematis yaitu lingkungan sekolah.
Hal ini yang perlu dipahami oleh setiap pendidik agar tidak tidak salah melangkah dalam melakukan usaha-usaha pendidikan. Usaha-usaha pendidikan harus disesuaikan dengan tingkat perkembangannya agar peserta didik dapat berkembang dengan baik. Sebagai pendidik yang bertanggung jawab untuk mendidik dan membimbing peserta didik selama berada di lingkungan sekolah, tentu harus memahami perkembangan yang dialami peserta didik sehingga usaha-usaha pendidikan yang dilakukan dapat sesuai dengan keadaan perkembangan peserta didik. Dalam hal ini, peran psikologi amat dibutuhkan guna membantu pendidik dalam memahami perkembangan peserta didik.

PEMBAHASAN
Konsep dasar psikologi yang utama tentang sejarah psikologi. Dilihat dari segi sejarah, memang psikologi salah satu cabang ilmu yang dikembangkan oleh filosof. Dimana lahirnya psikologi hadir karena rasa munculnya pertanyaan tentang kebutuhan hidup manusia dan rasa penasaran akan akal pikiran serta tingkah laku manusia.Itu sebabnya ilmu psikologi lebih sering dikaitkan dengan kehidupan organisme manusia. Kemudian mempelajari lebih banyak tentang perilaku, perasaan, emosi dan apapun elemen yang dilakukan oleh manusia. Segala sesuatu yang terjadi dan yang dilakukan oleh manusia dikembangkan dan diteliti.
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari semua tingkah laku individu atau peserta didik yang tidak dapat dilepaskan dari proses lingkungan dan yang terjadi dalam diri individu tersebut yang disebut sebagai proses mental (Saleh, 2018, hlm. 8). Proses mental dapat dipahami sebagai kondisi atau gejala yang terjadi dalam diri individu yang menjadi motor penggerak. psikologi merupakan ilmu yang melakukan studi ilmiah terhadap perilaku manusia? Mengapa Warsah & Daheri mengatakan makhluk hidup yang dapat mengandung implikasi bahwa psikologi dapat melibatkan hewan pula? Simpulan tersebut diambil karena pada mulanya, psikologi digunakan para ilmuwan dan para filosof sebagaimana disebutkan oleh Reber (dalam Warsah & Daheri, 2021, hlm. 3) untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam memahami akal pikiran dan tingkah laku aneka ragam makhluk hidup mulai yang primitif sampai yang paling modern.
Objek dan kajian Psikologi Pendidikan
Pada zaman Yunani, objek formal kajian psikologi adalah hakikat jiwa, namun pada era Decrates objek formal ini berubah menjadi gejala-gejala kesadaran. Selanjutnya, ketika aliran Behaviorisme muncul di Amerika pada permulaan abad ke-20, yang tampak menjadi objeknya ialah tingkah laku manusia yang tampak (lahiriah). Sedangkan aliran psikologi yang dipelopori oleh Freud, objeknya adalah gejala-gejala ketidaksadaran manusia. Manusia merupakan makhluk yang sangat kompleks dan unik sifatnya (Fatuhurrohman, 2016). Dengan demikian, objek psikologi akan sangat bergantung pada objek material yang dibahas dan perlukan dalam studinya. Misalnya, dalam ilmu sosial dan ilmu psikologi mempunyai objek material sama, yaitu manusia. Akan tetapi objek formalnya berbeda, karena ilmu sosial membahas manusia dari sudut pembahasan kehidupan individu dan interaksinya antar masyarakat, sedangkan ilmu psikologi membahas manusia dari sudut pembahasan jiwa dan pikiran dari individu itu sendiri.
Psikologi umum adalah psikologi yang menyelidiki dan mempelajari kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas psikis manusia pada umumnya yang dewasa, yang normal dan yang beradab (berkultur) (Saleh, 2018, hlm. 24). Selain itu, psikologi umum juga memandang manusia seakan-akan terlepas dari manusia yang lain. Psikologi umum berusaha mencari dalil-dalil yang bersifat umum daripada kegiatan-kegiatan atau aktivitas psikis.
Psikologi khusus adalah psikologi yang menyelidiki dan mempelajari segi-segi kekhususan dari aktivitas-aktivitas psikis manusia berupa hal-hal yang menyimpang dari psikologi itu sendiri, misalnya psikologi pendidikan, psikologi kriminal, psikologi kepribadian, dan sebagainya.
Manfaat Mempelajari Psikologis
Mempelajari sikologi ternyata juga memiliki manfaatnya. Manfaat ini pulalah yang sebenarnya juga termasuk ke dalam konsep dasar psikologi. Lalu apa saja sih manfaat mempelajari psikologi? menguasai dan mempelajari tentang gejala jiwa, mempelajari tingkah laku manusia secara umum dan secara khusus.Setidaknya dengna menguasai dan memahami konsep dasar psikologi lakan memudahkan kita dalam menganalisis seseorang ataupun menilai diri sendiri dengan baik. Secara tidak langsung pula, belajar psikologi mampu meningkatkan kepekaan kita terhadap lingkungan dan orang-orang disekitar kita. Sehingga juga akan mempengaruhi perilaku, sikap, cara berfikir dan daya analisis kita. Adapun manfaat lain mempelajari konsep dasar psikologi dalam kehidupan sehari-hari. Ada dua bentuk kemanfaatan, yaitu manfaat psikologi teoritis. Psikologi teoritis salah satu ilmu yang tidak hanya mempelajari kejiwaan dan mempelajari gejala seseorang saja.

. Faktor yang mempengaruhi psikologi Pendidikan
Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan peserta didik, motivasi, dan minatnya.
Kecerdasan
Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik dalam mereaksikan rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan demikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ-organ tubuh lainnya. Namun bila dikaitkan dengan kecerdasan, tentunya otak merupakan organ yang penting dibandingkan organ yang lain, karena fungsi otak itu sebagai organ pengendali tertinggi (executive control) dari hampir seluruh aktivitas manusia.
Motivasi
Motivasi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar peserta didik. Motivasilah yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat. Motivasi juga diartikan sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan arah perilaku seseorang.
Minat
Secara sederhana, minat (interest) nerrti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. minat bukanlah istilah yang popular dalam psikologi disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai faktor internal lainnya, seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.
PENUTUP
Psikologi pendidikan merupakan suatu cabang ilmu yang membahas tingkah laku peserta didik pada proses pendidikan sehingga mampu menyelesaikan masalah-masalah pendidikan. Fungsi psikologi pendidikan dalam proses belajar-mengajar tidak hanya mencakup peningkatan mutu belajar peserta didik dalam kaitan dengan perkembangan psikisnya namun juga mempelajari perkembangan peserta didik dalam interaksinya dengan pelajaran dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembelajaran dalam pendekatan- pendekatan yang dapat mempengaruhi pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA
Saleh, A.A. (2018). Pengantar psikologi. Makassar: Penerbit Aksara Timur.
Warsah, I., Daheri, M. (2021). Psikologi: suatu pengantar. Yogyakarta: Tunas Gemilang Press.

PSIKOLOGI BELAJARRAGAM BELAJAR

PSIKOLOGI BELAJAR
RAGAM BELAJAR

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Dalam proses kegiatan belajar mengajar sebelumnya ada yang harus diperhatikan baik pengajar maupun peserta pendidik, salah satunya yaitu mengenai ragam-ragam pembelajaran. Hal tersebut penting sekali karena diharapkan nanti dalam proses belajar mengajar dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Untuk mempertemukan tujuan pembelajaran dapat di upayakan dengan cara mengkomunikasikan tujuan tersebut kepada siswa. Dampaknya memang berbeda–beda pada diri rangsangan agar siswa merumuskan sendiri apa yang diingikan atau diharapkan dari kegiatan belajar yang hendak dilakukan. Keanekaragaman belajar muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang bermacam–macam. Lebih jelasnya mengenai ragam-ragam pembelajaran akan diterangkan pada bab selanjutnya.
Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan interaksi yang dinamis antara pendidik yang melaksanakan tugas mengajar dengan anak didik yang melaksanakan kegiatan belajar. Proses interaksi ini sangat penting dalam kelangsungan proses belajar mengajar, karena dalam proses belajar mengajar pendidik menyampaikan suatu pesan berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan etika kepada para peserta didik melalui proses interaksi.
PEMBAHASAN
Hakekat Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Slameto menyatakan bahwa Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Selanjutnya Nana Sudjana mendefenisikan: “Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan suatu perubahan pada diri seseorang”. Perubahan yang dimaksud itu berupa hasil belajar yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk.
Teori Belajar
Pada mulanya teori-teori belajar dikembangkan oleh para ahli psikologi dan dicobakan tidak langsung kepada manusia di sekolah, melainkan menggunakan percobaan dengan binatang. Mereka beranggapan bahwa hasil percobaannya akan dapat diterapkan pada proses belajar-mengajar untuk manusia. Pada tingkat perkembangan berikutnya, baru para ahli mencurahkan perhatiannya pada proses belajar-mengajar untuk manusia di sekolah. Penelitian-penelitiannya yang tertuang dalam berbagai teori yang berbagai macam jenisnya. Teori-teori ini kemudian dikembangkan pada suatu stadium yang berdasar atas prinsip Conditioning, yakni pembentukan hubungan stimulus dan respons.

Macam-macam Ragam Belajar
Ragam Abstrak

Ragam belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat disamping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, astronomi, dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid.
Ragam sosial
Ragam belajar sosial pada dasarnya adalah belajar memahami masalahmasalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga, persahabatan, kelompok, dan masalah lainnya yang bersifat kemasyarakatan. Selain itu, belajar sosial juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional.
Ragam Pemecahan Masalah
Ragam belajar pemecahan masalah yaitu belajar menggunakan metodemetode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas dan tuntas.
Ragam Rasional
Ragam belajar Rasional ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah.
Ragam keterampilan
Ragam belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakangerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular). Tujuannya adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini latihan secara intensif dan teratur amat diperlukan. Termasuk dalam belajar ini misalnya belajar olahraga, musik, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik dan juga sebagian bidang studi agama seperti ibadah shalat dan haji.

Ragam Kebiasaan
Ragam belajar kebisaaan adalah proses pembentukan kebisaaan-kebisaaan baru atau perbaikan kebisaaan-kebisaaan yang telah ada. Belajar kebisaaan selain mengguanakan perintah, suri tauladan dan pengalaman khusus juga menggunakan ganjaran dan hukuman (reward & punishment). Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebisaaan-kebisaaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (konstektual) serta selaras dengan norma dan tata nilai yang berlaku, baik yang bersifat religious maupun yang bersifat kultural dan tradisional. Belajar kebisaaan lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga sebagaimana yang dimaksud oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 Bab VI Bagian keenam Pasal 27 (1). Namun demikian, tentu tidak tertutup kemungkinan penggunaan pelajaran agama sebagai sarana belajar kebisaaan bagi para siswa.

Ragam Apresiasi
Ragam belajar apresiasi merupakan belajar mempertimbangkan (judgement) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skill) dimana dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu, misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, apresiasi lukisan, benda sejarah dan sebagainya. Bidang-bidang studi yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan sastra, kerajinan tangan (prakarya), kesenian, menggambar, dan sebagainya. Selain Bidang studi ini, bidang studi agama juga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat pengembangan belajar apresiasi siswa, misalnya dalam hal seni baca tulis Al-Qur’an.
Prinsip belajar
Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi Dalam suatu proses belajar, banyak segi yang sepatutnya dicapai sebagai hasil belajar, yaitu meliputi pengetahuan dan pemahaman tentang konsep, kemampuan menerapkan konsep, kemampuan menjabarkan dan menarik kesimpulan serta menilai kemanfaatan suatu konsep, menyenangi dan memberi respon yang positif terhadap sesuatu yang dipelajari, diperoleh kecakapan melakukan suatu kegiatan tertentu.
Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman Kemauan dan dorongan untuk melakukan kegiatan yang dapat memberi pengalaman belajar untuk mencapai pemahaman sepatutnya muncul dari dalam diri sendiri. Kemunculan hal tersebut disebabkan oleh adanya rangsangan yang datang dari luar lingkungan. Dalam kegiatan belajar mengajar, rangsangan dapat ditimbulkan dari guru dengan menyodorkan suatu materi pelajaran yang bersifat problematik yang menuntut upaya menemukan pemecahan melalui suatu proses pencarian dan penemuan atau proses pemecahan masalah.
Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan Dalam proses belajar, apa yang ingin dicapai sepatutnya dirasakan dan dimiliki oleh setiap siswa. Tujuan belajar bukan berarti tujuan pembelajaran, karena tujuan pembelajaran merupakan tujuan dan harapan yang ingin dicapai guru dari kegiatan yang dilakukan. Meskipun apa yang diinginkan guru atau yang diharapkan itu kemunculannya pada diri siswa, namun belum tentu apa yang diinginkan guru itu sesuai dengan apa yang diinginkan siswa.
Prinsip mengajar
Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa.
Apa yang telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari materi pembelajaran yang akan diajarkan. Oleh karena itu tingkat kemampuan siswa sebelum proses pembelajaran berlangsung harus diketahui guru. Tingkat kemampuan semacam ini di sebut entry behavior. Entry behavior dapat diketahui diantaranya dengan melakukan pra tes. Hal ini sangat penting agar proses pembelajaran dapat efektif dan efisien
Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis.
Materi–materi pembelajaran yang berkaitan dengan segi– egi kehidupan yang bersifat praktis pada umumnya dapat menarik minat siswa untuk mempelajari. Dengan mempelajari materi pembelajaran yang dikaitkan dengan hal itu perhatian yang bersifat khusus akan muncul, karena bisa jadi, materi pembelajaran yang sama, namun dikaitkan dengan kehidupan yang praktis akan memunculkan keterkaitan dengan seg segi tertentu yang sangat beragam.

PENUTUP
Ragam-ragam belajar antara lain : 1) Abstrak, 2) Keterampilan, 3) Social, 4) Pemecahan masalah, 5) Rasional, 6) Kebiasaan, 7) Apresiasi, 8) Pengetahuan
Prinsip pembelajaran terdiri dari
1) Prinsip belajar yang meliputi:
a) Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi,
b) Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman,
c) Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan.
dan Prinsip mengajar meliputi:
a) Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa,
b) Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis,
c) Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa,
d) Kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar,
e) Tujuan pembelajaran harus diketahui siswa, dan
f) Mengajar harus mengikuti prinsip psikologi tentang belajar
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Lukman. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : CV. Wacana Prima, 2008.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta : Rajawali Pers, 2009.

PSIKOLOGI BELAJAR
RAGAM BELAJAR

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Dalam proses kegiatan belajar mengajar sebelumnya ada yang harus diperhatikan baik pengajar maupun peserta pendidik, salah satunya yaitu mengenai ragam-ragam pembelajaran. Hal tersebut penting sekali karena diharapkan nanti dalam proses belajar mengajar dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Untuk mempertemukan tujuan pembelajaran dapat di upayakan dengan cara mengkomunikasikan tujuan tersebut kepada siswa. Dampaknya memang berbeda–beda pada diri rangsangan agar siswa merumuskan sendiri apa yang diingikan atau diharapkan dari kegiatan belajar yang hendak dilakukan. Keanekaragaman belajar muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang bermacam–macam. Lebih jelasnya mengenai ragam-ragam pembelajaran akan diterangkan pada bab selanjutnya.
Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan interaksi yang dinamis antara pendidik yang melaksanakan tugas mengajar dengan anak didik yang melaksanakan kegiatan belajar. Proses interaksi ini sangat penting dalam kelangsungan proses belajar mengajar, karena dalam proses belajar mengajar pendidik menyampaikan suatu pesan berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan etika kepada para peserta didik melalui proses interaksi.
PEMBAHASAN
Hakekat Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Slameto menyatakan bahwa Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Selanjutnya Nana Sudjana mendefenisikan: “Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan suatu perubahan pada diri seseorang”. Perubahan yang dimaksud itu berupa hasil belajar yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk.
Teori Belajar
Pada mulanya teori-teori belajar dikembangkan oleh para ahli psikologi dan dicobakan tidak langsung kepada manusia di sekolah, melainkan menggunakan percobaan dengan binatang. Mereka beranggapan bahwa hasil percobaannya akan dapat diterapkan pada proses belajar-mengajar untuk manusia. Pada tingkat perkembangan berikutnya, baru para ahli mencurahkan perhatiannya pada proses belajar-mengajar untuk manusia di sekolah. Penelitian-penelitiannya yang tertuang dalam berbagai teori yang berbagai macam jenisnya. Teori-teori ini kemudian dikembangkan pada suatu stadium yang berdasar atas prinsip Conditioning, yakni pembentukan hubungan stimulus dan respons.

Macam-macam Ragam Belajar
Ragam Abstrak

Ragam belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat disamping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, astronomi, dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid.
Ragam sosial
Ragam belajar sosial pada dasarnya adalah belajar memahami masalahmasalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga, persahabatan, kelompok, dan masalah lainnya yang bersifat kemasyarakatan. Selain itu, belajar sosial juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional.
Ragam Pemecahan Masalah
Ragam belajar pemecahan masalah yaitu belajar menggunakan metodemetode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas dan tuntas.
Ragam Rasional
Ragam belajar Rasional ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah.
Ragam keterampilan
Ragam belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakangerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular). Tujuannya adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini latihan secara intensif dan teratur amat diperlukan. Termasuk dalam belajar ini misalnya belajar olahraga, musik, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik dan juga sebagian bidang studi agama seperti ibadah shalat dan haji.

Ragam Kebiasaan
Ragam belajar kebisaaan adalah proses pembentukan kebisaaan-kebisaaan baru atau perbaikan kebisaaan-kebisaaan yang telah ada. Belajar kebisaaan selain mengguanakan perintah, suri tauladan dan pengalaman khusus juga menggunakan ganjaran dan hukuman (reward & punishment). Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebisaaan-kebisaaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (konstektual) serta selaras dengan norma dan tata nilai yang berlaku, baik yang bersifat religious maupun yang bersifat kultural dan tradisional. Belajar kebisaaan lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga sebagaimana yang dimaksud oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 Bab VI Bagian keenam Pasal 27 (1). Namun demikian, tentu tidak tertutup kemungkinan penggunaan pelajaran agama sebagai sarana belajar kebisaaan bagi para siswa.

Ragam Apresiasi
Ragam belajar apresiasi merupakan belajar mempertimbangkan (judgement) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skill) dimana dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu, misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, apresiasi lukisan, benda sejarah dan sebagainya. Bidang-bidang studi yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan sastra, kerajinan tangan (prakarya), kesenian, menggambar, dan sebagainya. Selain Bidang studi ini, bidang studi agama juga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat pengembangan belajar apresiasi siswa, misalnya dalam hal seni baca tulis Al-Qur’an.
Prinsip belajar
Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi Dalam suatu proses belajar, banyak segi yang sepatutnya dicapai sebagai hasil belajar, yaitu meliputi pengetahuan dan pemahaman tentang konsep, kemampuan menerapkan konsep, kemampuan menjabarkan dan menarik kesimpulan serta menilai kemanfaatan suatu konsep, menyenangi dan memberi respon yang positif terhadap sesuatu yang dipelajari, diperoleh kecakapan melakukan suatu kegiatan tertentu.
Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman Kemauan dan dorongan untuk melakukan kegiatan yang dapat memberi pengalaman belajar untuk mencapai pemahaman sepatutnya muncul dari dalam diri sendiri. Kemunculan hal tersebut disebabkan oleh adanya rangsangan yang datang dari luar lingkungan. Dalam kegiatan belajar mengajar, rangsangan dapat ditimbulkan dari guru dengan menyodorkan suatu materi pelajaran yang bersifat problematik yang menuntut upaya menemukan pemecahan melalui suatu proses pencarian dan penemuan atau proses pemecahan masalah.
Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan Dalam proses belajar, apa yang ingin dicapai sepatutnya dirasakan dan dimiliki oleh setiap siswa. Tujuan belajar bukan berarti tujuan pembelajaran, karena tujuan pembelajaran merupakan tujuan dan harapan yang ingin dicapai guru dari kegiatan yang dilakukan. Meskipun apa yang diinginkan guru atau yang diharapkan itu kemunculannya pada diri siswa, namun belum tentu apa yang diinginkan guru itu sesuai dengan apa yang diinginkan siswa.
Prinsip mengajar
Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa.
Apa yang telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari materi pembelajaran yang akan diajarkan. Oleh karena itu tingkat kemampuan siswa sebelum proses pembelajaran berlangsung harus diketahui guru. Tingkat kemampuan semacam ini di sebut entry behavior. Entry behavior dapat diketahui diantaranya dengan melakukan pra tes. Hal ini sangat penting agar proses pembelajaran dapat efektif dan efisien
Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis.
Materi–materi pembelajaran yang berkaitan dengan segi– egi kehidupan yang bersifat praktis pada umumnya dapat menarik minat siswa untuk mempelajari. Dengan mempelajari materi pembelajaran yang dikaitkan dengan hal itu perhatian yang bersifat khusus akan muncul, karena bisa jadi, materi pembelajaran yang sama, namun dikaitkan dengan kehidupan yang praktis akan memunculkan keterkaitan dengan seg segi tertentu yang sangat beragam.

PENUTUP
Ragam-ragam belajar antara lain : 1) Abstrak, 2) Keterampilan, 3) Social, 4) Pemecahan masalah, 5) Rasional, 6) Kebiasaan, 7) Apresiasi, 8) Pengetahuan
Prinsip pembelajaran terdiri dari
1) Prinsip belajar yang meliputi:
a) Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi,
b) Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman,
c) Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan.
dan Prinsip mengajar meliputi:
a) Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa,
b) Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis,
c) Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa,
d) Kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar,
e) Tujuan pembelajaran harus diketahui siswa, dan
f) Mengajar harus mengikuti prinsip psikologi tentang belajar
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Lukman. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : CV. Wacana Prima, 2008.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta : Rajawali Pers, 2009.

PSIKOLOGI BELAJAR
RAGAM BELAJAR

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Dalam proses kegiatan belajar mengajar sebelumnya ada yang harus diperhatikan baik pengajar maupun peserta pendidik, salah satunya yaitu mengenai ragam-ragam pembelajaran. Hal tersebut penting sekali karena diharapkan nanti dalam proses belajar mengajar dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Untuk mempertemukan tujuan pembelajaran dapat di upayakan dengan cara mengkomunikasikan tujuan tersebut kepada siswa. Dampaknya memang berbeda–beda pada diri rangsangan agar siswa merumuskan sendiri apa yang diingikan atau diharapkan dari kegiatan belajar yang hendak dilakukan. Keanekaragaman belajar muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang bermacam–macam. Lebih jelasnya mengenai ragam-ragam pembelajaran akan diterangkan pada bab selanjutnya.
Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan interaksi yang dinamis antara pendidik yang melaksanakan tugas mengajar dengan anak didik yang melaksanakan kegiatan belajar. Proses interaksi ini sangat penting dalam kelangsungan proses belajar mengajar, karena dalam proses belajar mengajar pendidik menyampaikan suatu pesan berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan etika kepada para peserta didik melalui proses interaksi.
PEMBAHASAN
Hakekat Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Slameto menyatakan bahwa Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Selanjutnya Nana Sudjana mendefenisikan: “Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan suatu perubahan pada diri seseorang”. Perubahan yang dimaksud itu berupa hasil belajar yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk.
Teori Belajar
Pada mulanya teori-teori belajar dikembangkan oleh para ahli psikologi dan dicobakan tidak langsung kepada manusia di sekolah, melainkan menggunakan percobaan dengan binatang. Mereka beranggapan bahwa hasil percobaannya akan dapat diterapkan pada proses belajar-mengajar untuk manusia. Pada tingkat perkembangan berikutnya, baru para ahli mencurahkan perhatiannya pada proses belajar-mengajar untuk manusia di sekolah. Penelitian-penelitiannya yang tertuang dalam berbagai teori yang berbagai macam jenisnya. Teori-teori ini kemudian dikembangkan pada suatu stadium yang berdasar atas prinsip Conditioning, yakni pembentukan hubungan stimulus dan respons.

Macam-macam Ragam Belajar
Ragam Abstrak

Ragam belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat disamping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, astronomi, dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid.
Ragam sosial
Ragam belajar sosial pada dasarnya adalah belajar memahami masalahmasalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga, persahabatan, kelompok, dan masalah lainnya yang bersifat kemasyarakatan. Selain itu, belajar sosial juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional.
Ragam Pemecahan Masalah
Ragam belajar pemecahan masalah yaitu belajar menggunakan metodemetode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas dan tuntas.
Ragam Rasional
Ragam belajar Rasional ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah.
Ragam keterampilan
Ragam belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakangerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular). Tujuannya adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini latihan secara intensif dan teratur amat diperlukan. Termasuk dalam belajar ini misalnya belajar olahraga, musik, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik dan juga sebagian bidang studi agama seperti ibadah shalat dan haji.

Ragam Kebiasaan
Ragam belajar kebisaaan adalah proses pembentukan kebisaaan-kebisaaan baru atau perbaikan kebisaaan-kebisaaan yang telah ada. Belajar kebisaaan selain mengguanakan perintah, suri tauladan dan pengalaman khusus juga menggunakan ganjaran dan hukuman (reward & punishment). Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebisaaan-kebisaaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (konstektual) serta selaras dengan norma dan tata nilai yang berlaku, baik yang bersifat religious maupun yang bersifat kultural dan tradisional. Belajar kebisaaan lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga sebagaimana yang dimaksud oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 Bab VI Bagian keenam Pasal 27 (1). Namun demikian, tentu tidak tertutup kemungkinan penggunaan pelajaran agama sebagai sarana belajar kebisaaan bagi para siswa.

Ragam Apresiasi
Ragam belajar apresiasi merupakan belajar mempertimbangkan (judgement) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skill) dimana dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu, misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, apresiasi lukisan, benda sejarah dan sebagainya. Bidang-bidang studi yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan sastra, kerajinan tangan (prakarya), kesenian, menggambar, dan sebagainya. Selain Bidang studi ini, bidang studi agama juga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat pengembangan belajar apresiasi siswa, misalnya dalam hal seni baca tulis Al-Qur’an.
Prinsip belajar
Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi Dalam suatu proses belajar, banyak segi yang sepatutnya dicapai sebagai hasil belajar, yaitu meliputi pengetahuan dan pemahaman tentang konsep, kemampuan menerapkan konsep, kemampuan menjabarkan dan menarik kesimpulan serta menilai kemanfaatan suatu konsep, menyenangi dan memberi respon yang positif terhadap sesuatu yang dipelajari, diperoleh kecakapan melakukan suatu kegiatan tertentu.
Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman Kemauan dan dorongan untuk melakukan kegiatan yang dapat memberi pengalaman belajar untuk mencapai pemahaman sepatutnya muncul dari dalam diri sendiri. Kemunculan hal tersebut disebabkan oleh adanya rangsangan yang datang dari luar lingkungan. Dalam kegiatan belajar mengajar, rangsangan dapat ditimbulkan dari guru dengan menyodorkan suatu materi pelajaran yang bersifat problematik yang menuntut upaya menemukan pemecahan melalui suatu proses pencarian dan penemuan atau proses pemecahan masalah.
Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan Dalam proses belajar, apa yang ingin dicapai sepatutnya dirasakan dan dimiliki oleh setiap siswa. Tujuan belajar bukan berarti tujuan pembelajaran, karena tujuan pembelajaran merupakan tujuan dan harapan yang ingin dicapai guru dari kegiatan yang dilakukan. Meskipun apa yang diinginkan guru atau yang diharapkan itu kemunculannya pada diri siswa, namun belum tentu apa yang diinginkan guru itu sesuai dengan apa yang diinginkan siswa.
Prinsip mengajar
Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa.
Apa yang telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari materi pembelajaran yang akan diajarkan. Oleh karena itu tingkat kemampuan siswa sebelum proses pembelajaran berlangsung harus diketahui guru. Tingkat kemampuan semacam ini di sebut entry behavior. Entry behavior dapat diketahui diantaranya dengan melakukan pra tes. Hal ini sangat penting agar proses pembelajaran dapat efektif dan efisien
Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis.
Materi–materi pembelajaran yang berkaitan dengan segi– egi kehidupan yang bersifat praktis pada umumnya dapat menarik minat siswa untuk mempelajari. Dengan mempelajari materi pembelajaran yang dikaitkan dengan hal itu perhatian yang bersifat khusus akan muncul, karena bisa jadi, materi pembelajaran yang sama, namun dikaitkan dengan kehidupan yang praktis akan memunculkan keterkaitan dengan seg segi tertentu yang sangat beragam.

PENUTUP
Ragam-ragam belajar antara lain : 1) Abstrak, 2) Keterampilan, 3) Social, 4) Pemecahan masalah, 5) Rasional, 6) Kebiasaan, 7) Apresiasi, 8) Pengetahuan
Prinsip pembelajaran terdiri dari
1) Prinsip belajar yang meliputi:
a) Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi,
b) Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman,
c) Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan.
dan Prinsip mengajar meliputi:
a) Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa,
b) Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis,
c) Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa,
d) Kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar,
e) Tujuan pembelajaran harus diketahui siswa, dan
f) Mengajar harus mengikuti prinsip psikologi tentang belajar
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Lukman. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : CV. Wacana Prima, 2008.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta : Rajawali Pers, 2009.

PSIKOLOGI BELAJAR
RAGAM BELAJAR

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Dalam proses kegiatan belajar mengajar sebelumnya ada yang harus diperhatikan baik pengajar maupun peserta pendidik, salah satunya yaitu mengenai ragam-ragam pembelajaran. Hal tersebut penting sekali karena diharapkan nanti dalam proses belajar mengajar dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Untuk mempertemukan tujuan pembelajaran dapat di upayakan dengan cara mengkomunikasikan tujuan tersebut kepada siswa. Dampaknya memang berbeda–beda pada diri rangsangan agar siswa merumuskan sendiri apa yang diingikan atau diharapkan dari kegiatan belajar yang hendak dilakukan. Keanekaragaman belajar muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang bermacam–macam. Lebih jelasnya mengenai ragam-ragam pembelajaran akan diterangkan pada bab selanjutnya.
Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan interaksi yang dinamis antara pendidik yang melaksanakan tugas mengajar dengan anak didik yang melaksanakan kegiatan belajar. Proses interaksi ini sangat penting dalam kelangsungan proses belajar mengajar, karena dalam proses belajar mengajar pendidik menyampaikan suatu pesan berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan etika kepada para peserta didik melalui proses interaksi.
PEMBAHASAN
Hakekat Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Slameto menyatakan bahwa Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Selanjutnya Nana Sudjana mendefenisikan: “Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan suatu perubahan pada diri seseorang”. Perubahan yang dimaksud itu berupa hasil belajar yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk.
Teori Belajar
Pada mulanya teori-teori belajar dikembangkan oleh para ahli psikologi dan dicobakan tidak langsung kepada manusia di sekolah, melainkan menggunakan percobaan dengan binatang. Mereka beranggapan bahwa hasil percobaannya akan dapat diterapkan pada proses belajar-mengajar untuk manusia. Pada tingkat perkembangan berikutnya, baru para ahli mencurahkan perhatiannya pada proses belajar-mengajar untuk manusia di sekolah. Penelitian-penelitiannya yang tertuang dalam berbagai teori yang berbagai macam jenisnya. Teori-teori ini kemudian dikembangkan pada suatu stadium yang berdasar atas prinsip Conditioning, yakni pembentukan hubungan stimulus dan respons.

Macam-macam Ragam Belajar
Ragam Abstrak

Ragam belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat disamping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, astronomi, dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid.
Ragam sosial
Ragam belajar sosial pada dasarnya adalah belajar memahami masalahmasalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga, persahabatan, kelompok, dan masalah lainnya yang bersifat kemasyarakatan. Selain itu, belajar sosial juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional.
Ragam Pemecahan Masalah
Ragam belajar pemecahan masalah yaitu belajar menggunakan metodemetode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas dan tuntas.
Ragam Rasional
Ragam belajar Rasional ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah.
Ragam keterampilan
Ragam belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakangerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular). Tujuannya adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini latihan secara intensif dan teratur amat diperlukan. Termasuk dalam belajar ini misalnya belajar olahraga, musik, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik dan juga sebagian bidang studi agama seperti ibadah shalat dan haji.

Ragam Kebiasaan
Ragam belajar kebisaaan adalah proses pembentukan kebisaaan-kebisaaan baru atau perbaikan kebisaaan-kebisaaan yang telah ada. Belajar kebisaaan selain mengguanakan perintah, suri tauladan dan pengalaman khusus juga menggunakan ganjaran dan hukuman (reward & punishment). Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebisaaan-kebisaaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (konstektual) serta selaras dengan norma dan tata nilai yang berlaku, baik yang bersifat religious maupun yang bersifat kultural dan tradisional. Belajar kebisaaan lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga sebagaimana yang dimaksud oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 Bab VI Bagian keenam Pasal 27 (1). Namun demikian, tentu tidak tertutup kemungkinan penggunaan pelajaran agama sebagai sarana belajar kebisaaan bagi para siswa.

Ragam Apresiasi
Ragam belajar apresiasi merupakan belajar mempertimbangkan (judgement) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skill) dimana dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu, misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, apresiasi lukisan, benda sejarah dan sebagainya. Bidang-bidang studi yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan sastra, kerajinan tangan (prakarya), kesenian, menggambar, dan sebagainya. Selain Bidang studi ini, bidang studi agama juga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat pengembangan belajar apresiasi siswa, misalnya dalam hal seni baca tulis Al-Qur’an.
Prinsip belajar
Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi Dalam suatu proses belajar, banyak segi yang sepatutnya dicapai sebagai hasil belajar, yaitu meliputi pengetahuan dan pemahaman tentang konsep, kemampuan menerapkan konsep, kemampuan menjabarkan dan menarik kesimpulan serta menilai kemanfaatan suatu konsep, menyenangi dan memberi respon yang positif terhadap sesuatu yang dipelajari, diperoleh kecakapan melakukan suatu kegiatan tertentu.
Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman Kemauan dan dorongan untuk melakukan kegiatan yang dapat memberi pengalaman belajar untuk mencapai pemahaman sepatutnya muncul dari dalam diri sendiri. Kemunculan hal tersebut disebabkan oleh adanya rangsangan yang datang dari luar lingkungan. Dalam kegiatan belajar mengajar, rangsangan dapat ditimbulkan dari guru dengan menyodorkan suatu materi pelajaran yang bersifat problematik yang menuntut upaya menemukan pemecahan melalui suatu proses pencarian dan penemuan atau proses pemecahan masalah.
Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan Dalam proses belajar, apa yang ingin dicapai sepatutnya dirasakan dan dimiliki oleh setiap siswa. Tujuan belajar bukan berarti tujuan pembelajaran, karena tujuan pembelajaran merupakan tujuan dan harapan yang ingin dicapai guru dari kegiatan yang dilakukan. Meskipun apa yang diinginkan guru atau yang diharapkan itu kemunculannya pada diri siswa, namun belum tentu apa yang diinginkan guru itu sesuai dengan apa yang diinginkan siswa.
Prinsip mengajar
Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa.
Apa yang telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari materi pembelajaran yang akan diajarkan. Oleh karena itu tingkat kemampuan siswa sebelum proses pembelajaran berlangsung harus diketahui guru. Tingkat kemampuan semacam ini di sebut entry behavior. Entry behavior dapat diketahui diantaranya dengan melakukan pra tes. Hal ini sangat penting agar proses pembelajaran dapat efektif dan efisien
Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis.
Materi–materi pembelajaran yang berkaitan dengan segi– egi kehidupan yang bersifat praktis pada umumnya dapat menarik minat siswa untuk mempelajari. Dengan mempelajari materi pembelajaran yang dikaitkan dengan hal itu perhatian yang bersifat khusus akan muncul, karena bisa jadi, materi pembelajaran yang sama, namun dikaitkan dengan kehidupan yang praktis akan memunculkan keterkaitan dengan seg segi tertentu yang sangat beragam.

PENUTUP
Ragam-ragam belajar antara lain : 1) Abstrak, 2) Keterampilan, 3) Social, 4) Pemecahan masalah, 5) Rasional, 6) Kebiasaan, 7) Apresiasi, 8) Pengetahuan
Prinsip pembelajaran terdiri dari
1) Prinsip belajar yang meliputi:
a) Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi,
b) Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman,
c) Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan.
dan Prinsip mengajar meliputi:
a) Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa,
b) Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis,
c) Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa,
d) Kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar,
e) Tujuan pembelajaran harus diketahui siswa, dan
f) Mengajar harus mengikuti prinsip psikologi tentang belajar
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Lukman. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : CV. Wacana Prima, 2008.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta : Rajawali Pers, 2009.

PSIKOLOGI BELAJAR
RAGAM BELAJAR

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Dalam proses kegiatan belajar mengajar sebelumnya ada yang harus diperhatikan baik pengajar maupun peserta pendidik, salah satunya yaitu mengenai ragam-ragam pembelajaran. Hal tersebut penting sekali karena diharapkan nanti dalam proses belajar mengajar dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Untuk mempertemukan tujuan pembelajaran dapat di upayakan dengan cara mengkomunikasikan tujuan tersebut kepada siswa. Dampaknya memang berbeda–beda pada diri rangsangan agar siswa merumuskan sendiri apa yang diingikan atau diharapkan dari kegiatan belajar yang hendak dilakukan. Keanekaragaman belajar muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang bermacam–macam. Lebih jelasnya mengenai ragam-ragam pembelajaran akan diterangkan pada bab selanjutnya.
Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan interaksi yang dinamis antara pendidik yang melaksanakan tugas mengajar dengan anak didik yang melaksanakan kegiatan belajar. Proses interaksi ini sangat penting dalam kelangsungan proses belajar mengajar, karena dalam proses belajar mengajar pendidik menyampaikan suatu pesan berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan etika kepada para peserta didik melalui proses interaksi.
PEMBAHASAN
Hakekat Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Slameto menyatakan bahwa Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Selanjutnya Nana Sudjana mendefenisikan: “Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan suatu perubahan pada diri seseorang”. Perubahan yang dimaksud itu berupa hasil belajar yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk.
Teori Belajar
Pada mulanya teori-teori belajar dikembangkan oleh para ahli psikologi dan dicobakan tidak langsung kepada manusia di sekolah, melainkan menggunakan percobaan dengan binatang. Mereka beranggapan bahwa hasil percobaannya akan dapat diterapkan pada proses belajar-mengajar untuk manusia. Pada tingkat perkembangan berikutnya, baru para ahli mencurahkan perhatiannya pada proses belajar-mengajar untuk manusia di sekolah. Penelitian-penelitiannya yang tertuang dalam berbagai teori yang berbagai macam jenisnya. Teori-teori ini kemudian dikembangkan pada suatu stadium yang berdasar atas prinsip Conditioning, yakni pembentukan hubungan stimulus dan respons.

Macam-macam Ragam Belajar
Ragam Abstrak

Ragam belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat disamping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, astronomi, dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid.
Ragam sosial
Ragam belajar sosial pada dasarnya adalah belajar memahami masalahmasalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga, persahabatan, kelompok, dan masalah lainnya yang bersifat kemasyarakatan. Selain itu, belajar sosial juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional.
Ragam Pemecahan Masalah
Ragam belajar pemecahan masalah yaitu belajar menggunakan metodemetode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas dan tuntas.
Ragam Rasional
Ragam belajar Rasional ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah.
Ragam keterampilan
Ragam belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakangerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular). Tujuannya adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini latihan secara intensif dan teratur amat diperlukan. Termasuk dalam belajar ini misalnya belajar olahraga, musik, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik dan juga sebagian bidang studi agama seperti ibadah shalat dan haji.

Ragam Kebiasaan
Ragam belajar kebisaaan adalah proses pembentukan kebisaaan-kebisaaan baru atau perbaikan kebisaaan-kebisaaan yang telah ada. Belajar kebisaaan selain mengguanakan perintah, suri tauladan dan pengalaman khusus juga menggunakan ganjaran dan hukuman (reward & punishment). Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebisaaan-kebisaaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (konstektual) serta selaras dengan norma dan tata nilai yang berlaku, baik yang bersifat religious maupun yang bersifat kultural dan tradisional. Belajar kebisaaan lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga sebagaimana yang dimaksud oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 Bab VI Bagian keenam Pasal 27 (1). Namun demikian, tentu tidak tertutup kemungkinan penggunaan pelajaran agama sebagai sarana belajar kebisaaan bagi para siswa.

Ragam Apresiasi
Ragam belajar apresiasi merupakan belajar mempertimbangkan (judgement) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skill) dimana dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu, misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, apresiasi lukisan, benda sejarah dan sebagainya. Bidang-bidang studi yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan sastra, kerajinan tangan (prakarya), kesenian, menggambar, dan sebagainya. Selain Bidang studi ini, bidang studi agama juga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat pengembangan belajar apresiasi siswa, misalnya dalam hal seni baca tulis Al-Qur’an.
Prinsip belajar
Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi Dalam suatu proses belajar, banyak segi yang sepatutnya dicapai sebagai hasil belajar, yaitu meliputi pengetahuan dan pemahaman tentang konsep, kemampuan menerapkan konsep, kemampuan menjabarkan dan menarik kesimpulan serta menilai kemanfaatan suatu konsep, menyenangi dan memberi respon yang positif terhadap sesuatu yang dipelajari, diperoleh kecakapan melakukan suatu kegiatan tertentu.
Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman Kemauan dan dorongan untuk melakukan kegiatan yang dapat memberi pengalaman belajar untuk mencapai pemahaman sepatutnya muncul dari dalam diri sendiri. Kemunculan hal tersebut disebabkan oleh adanya rangsangan yang datang dari luar lingkungan. Dalam kegiatan belajar mengajar, rangsangan dapat ditimbulkan dari guru dengan menyodorkan suatu materi pelajaran yang bersifat problematik yang menuntut upaya menemukan pemecahan melalui suatu proses pencarian dan penemuan atau proses pemecahan masalah.
Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan Dalam proses belajar, apa yang ingin dicapai sepatutnya dirasakan dan dimiliki oleh setiap siswa. Tujuan belajar bukan berarti tujuan pembelajaran, karena tujuan pembelajaran merupakan tujuan dan harapan yang ingin dicapai guru dari kegiatan yang dilakukan. Meskipun apa yang diinginkan guru atau yang diharapkan itu kemunculannya pada diri siswa, namun belum tentu apa yang diinginkan guru itu sesuai dengan apa yang diinginkan siswa.
Prinsip mengajar
Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa.
Apa yang telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari materi pembelajaran yang akan diajarkan. Oleh karena itu tingkat kemampuan siswa sebelum proses pembelajaran berlangsung harus diketahui guru. Tingkat kemampuan semacam ini di sebut entry behavior. Entry behavior dapat diketahui diantaranya dengan melakukan pra tes. Hal ini sangat penting agar proses pembelajaran dapat efektif dan efisien
Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis.
Materi–materi pembelajaran yang berkaitan dengan segi– egi kehidupan yang bersifat praktis pada umumnya dapat menarik minat siswa untuk mempelajari. Dengan mempelajari materi pembelajaran yang dikaitkan dengan hal itu perhatian yang bersifat khusus akan muncul, karena bisa jadi, materi pembelajaran yang sama, namun dikaitkan dengan kehidupan yang praktis akan memunculkan keterkaitan dengan seg segi tertentu yang sangat beragam.

PENUTUP
Ragam-ragam belajar antara lain : 1) Abstrak, 2) Keterampilan, 3) Social, 4) Pemecahan masalah, 5) Rasional, 6) Kebiasaan, 7) Apresiasi, 8) Pengetahuan
Prinsip pembelajaran terdiri dari
1) Prinsip belajar yang meliputi:
a) Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi,
b) Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman,
c) Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan.
dan Prinsip mengajar meliputi:
a) Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa,
b) Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis,
c) Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa,
d) Kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar,
e) Tujuan pembelajaran harus diketahui siswa, dan
f) Mengajar harus mengikuti prinsip psikologi tentang belajar
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Lukman. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : CV. Wacana Prima, 2008.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta : Rajawali Pers, 2009.

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Dalam proses kegiatan belajar mengajar sebelumnya ada yang harus diperhatikan baik pengajar maupun peserta pendidik, salah satunya yaitu mengenai ragam-ragam pembelajaran. Hal tersebut penting sekali karena diharapkan nanti dalam proses belajar mengajar dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Untuk mempertemukan tujuan pembelajaran dapat di upayakan dengan cara mengkomunikasikan tujuan tersebut kepada siswa. Dampaknya memang berbeda–beda pada diri rangsangan agar siswa merumuskan sendiri apa yang diingikan atau diharapkan dari kegiatan belajar yang hendak dilakukan. Keanekaragaman belajar muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang bermacam–macam. Lebih jelasnya mengenai ragam-ragam pembelajaran akan diterangkan pada bab selanjutnya.
Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan interaksi yang dinamis antara pendidik yang melaksanakan tugas mengajar dengan anak didik yang melaksanakan kegiatan belajar. Proses interaksi ini sangat penting dalam kelangsungan proses belajar mengajar, karena dalam proses belajar mengajar pendidik menyampaikan suatu pesan berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan etika kepada para peserta didik melalui proses interaksi.
PEMBAHASAN
Hakekat Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Slameto menyatakan bahwa Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Selanjutnya Nana Sudjana mendefenisikan: “Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan suatu perubahan pada diri seseorang”. Perubahan yang dimaksud itu berupa hasil belajar yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk.
Teori Belajar
Pada mulanya teori-teori belajar dikembangkan oleh para ahli psikologi dan dicobakan tidak langsung kepada manusia di sekolah, melainkan menggunakan percobaan dengan binatang. Mereka beranggapan bahwa hasil percobaannya akan dapat diterapkan pada proses belajar-mengajar untuk manusia. Pada tingkat perkembangan berikutnya, baru para ahli mencurahkan perhatiannya pada proses belajar-mengajar untuk manusia di sekolah. Penelitian-penelitiannya yang tertuang dalam berbagai teori yang berbagai macam jenisnya. Teori-teori ini kemudian dikembangkan pada suatu stadium yang berdasar atas prinsip Conditioning, yakni pembentukan hubungan stimulus dan respons.

Macam-macam Ragam Belajar
Ragam Abstrak

Ragam belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat disamping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, astronomi, dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid.
Ragam sosial
Ragam belajar sosial pada dasarnya adalah belajar memahami masalahmasalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga, persahabatan, kelompok, dan masalah lainnya yang bersifat kemasyarakatan. Selain itu, belajar sosial juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional.
Ragam Pemecahan Masalah
Ragam belajar pemecahan masalah yaitu belajar menggunakan metodemetode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas dan tuntas.
Ragam Rasional
Ragam belajar Rasional ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah.
Ragam keterampilan
Ragam belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakangerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular). Tujuannya adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini latihan secara intensif dan teratur amat diperlukan. Termasuk dalam belajar ini misalnya belajar olahraga, musik, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik dan juga sebagian bidang studi agama seperti ibadah shalat dan haji.

Ragam Kebiasaan
Ragam belajar kebisaaan adalah proses pembentukan kebisaaan-kebisaaan baru atau perbaikan kebisaaan-kebisaaan yang telah ada. Belajar kebisaaan selain mengguanakan perintah, suri tauladan dan pengalaman khusus juga menggunakan ganjaran dan hukuman (reward & punishment). Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebisaaan-kebisaaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (konstektual) serta selaras dengan norma dan tata nilai yang berlaku, baik yang bersifat religious maupun yang bersifat kultural dan tradisional. Belajar kebisaaan lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga sebagaimana yang dimaksud oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 Bab VI Bagian keenam Pasal 27 (1). Namun demikian, tentu tidak tertutup kemungkinan penggunaan pelajaran agama sebagai sarana belajar kebisaaan bagi para siswa.

Ragam Apresiasi
Ragam belajar apresiasi merupakan belajar mempertimbangkan (judgement) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skill) dimana dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu, misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, apresiasi lukisan, benda sejarah dan sebagainya. Bidang-bidang studi yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan sastra, kerajinan tangan (prakarya), kesenian, menggambar, dan sebagainya. Selain Bidang studi ini, bidang studi agama juga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat pengembangan belajar apresiasi siswa, misalnya dalam hal seni baca tulis Al-Qur’an.
Prinsip belajar
Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi Dalam suatu proses belajar, banyak segi yang sepatutnya dicapai sebagai hasil belajar, yaitu meliputi pengetahuan dan pemahaman tentang konsep, kemampuan menerapkan konsep, kemampuan menjabarkan dan menarik kesimpulan serta menilai kemanfaatan suatu konsep, menyenangi dan memberi respon yang positif terhadap sesuatu yang dipelajari, diperoleh kecakapan melakukan suatu kegiatan tertentu.
Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman Kemauan dan dorongan untuk melakukan kegiatan yang dapat memberi pengalaman belajar untuk mencapai pemahaman sepatutnya muncul dari dalam diri sendiri. Kemunculan hal tersebut disebabkan oleh adanya rangsangan yang datang dari luar lingkungan. Dalam kegiatan belajar mengajar, rangsangan dapat ditimbulkan dari guru dengan menyodorkan suatu materi pelajaran yang bersifat problematik yang menuntut upaya menemukan pemecahan melalui suatu proses pencarian dan penemuan atau proses pemecahan masalah.
Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan Dalam proses belajar, apa yang ingin dicapai sepatutnya dirasakan dan dimiliki oleh setiap siswa. Tujuan belajar bukan berarti tujuan pembelajaran, karena tujuan pembelajaran merupakan tujuan dan harapan yang ingin dicapai guru dari kegiatan yang dilakukan. Meskipun apa yang diinginkan guru atau yang diharapkan itu kemunculannya pada diri siswa, namun belum tentu apa yang diinginkan guru itu sesuai dengan apa yang diinginkan siswa.
Prinsip mengajar
Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa.
Apa yang telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari materi pembelajaran yang akan diajarkan. Oleh karena itu tingkat kemampuan siswa sebelum proses pembelajaran berlangsung harus diketahui guru. Tingkat kemampuan semacam ini di sebut entry behavior. Entry behavior dapat diketahui diantaranya dengan melakukan pra tes. Hal ini sangat penting agar proses pembelajaran dapat efektif dan efisien
Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis.
Materi–materi pembelajaran yang berkaitan dengan segi– egi kehidupan yang bersifat praktis pada umumnya dapat menarik minat siswa untuk mempelajari. Dengan mempelajari materi pembelajaran yang dikaitkan dengan hal itu perhatian yang bersifat khusus akan muncul, karena bisa jadi, materi pembelajaran yang sama, namun dikaitkan dengan kehidupan yang praktis akan memunculkan keterkaitan dengan seg segi tertentu yang sangat beragam.

PENUTUP
Ragam-ragam belajar antara lain : 1) Abstrak, 2) Keterampilan, 3) Social, 4) Pemecahan masalah, 5) Rasional, 6) Kebiasaan, 7) Apresiasi, 8) Pengetahuan
Prinsip pembelajaran terdiri dari
1) Prinsip belajar yang meliputi:
a) Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi,
b) Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman,
c) Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan.
dan Prinsip mengajar meliputi:
a) Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa,
b) Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis,
c) Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa,
d) Kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar,
e) Tujuan pembelajaran harus diketahui siswa, dan
f) Mengajar harus mengikuti prinsip psikologi tentang belajar
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Lukman. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : CV. Wacana Prima, 2008.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta : Rajawali Pers, 2009.

SEJARAH PSIKOLOGI

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Ditinjau dari asal katanya, psikologi berasal dari kata psyche yang berarti jiwa, dan Ligos yang berarti ilmu. Jadi secara istilah, psikologi berarti ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan. Tetapi dalam sejarah perkembangannya, kemudian arti psikologi menjadi ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Ini di sebabkan karena jiwa yang mengandung arti yang abstrak itu sukar untuk di pelajari secara objektif. Kecuali itu, keadaan jiwa seseorang melatarbelakangi timbulnya hampir setiap tingkah laku .Beragamnya pendapat para ahli psikologi tentang pengertian dari psikologi, sehingga bisa di simpulkan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan perbuatan individu dimana individu tersebut tidak dapat di lepaskan dari lingkungannya. Pada zaman sebelum masehi, psikologi sudah dipelajari orang dan banyak di hubungkan dengan filsafat. Para ahli filsafat pada waktu itu sudah membicarakan tentang aspek-aspek kejiwaan manusia.
Psikologi dan ilmu pendidikan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena keduanya mempunyai hubungan timbal balik. Ilmu pendidikan sebagai suatu disiplin bertujuan memberikan bimbingan hidup manusia sejak lahir sampai mati. Pendidikan tidak akan berhasil dengan baik bilamana tidak berdasarkan kepada psikologi perkembangan. Demikian pula watak dan kepribadian seseorang ditunjukkan oleh psikologi. Karena begitu eratnya tugas antara psikologi dan ilmu pendidikan, kemudian lahirlah suatu subdisiplin ilmu pendidikan (educational psychology).

PEMBAHASAN
Psikologi berasal dari kata Yunani psyche yang artinya jiwa, dan logos yang artinya pengetahuan. Jadi, secara etimologi (menurut arti kata) psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam segalanya, prosesnya, maupun latar belakangnya. Dengan singkat disebut ilmu jiwa. Berbicara tentang jiwa, terlebih dahulu kita harus dapat membedakan antara nyawa dan jiwa. Nyawa adalah jasmaniah yang keberadaannya bergantung pada hidup jasmani dan menimbulkan perbuatan badaniah (organik behavior) yaitu perbuatan yang ditimbulkan oleh proses belajar.
Proses belajar ialah proses untuk meningkatkan kepribadian (personality) dengan jalan berusaha mendapatkan pengertian baru, nilai-nilai baru, dan kecakapan baru sehingga ia dapat berbuat yang lebih sukses menghadapi kontradiksi-kontradiksi. Jadi, jiwa mengandung pengertian-pengertian, nilai-nilai kebudayaan, dan kecakapan-kecakapan. Bila dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain seperti: ilmu pasti, ilmu alam, dan lain-lain, maka ilmu jiwa dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan yang serba kurang tegas, sebab ilmu itu mengalami perubahan, tumbuh, berkembang untuk mencapai kesempurnaan. Namun demikian, ilmu ini sudah merupakan cabang ilmu pengetahuan. Manusia dapat mengetahui jiwa seseorang hanya dengan tingkah lakunya. Jadi, dari tingkah laku itulah orang dapat mengetahui jiwa seseorang dan tingkah laku merupakan kenyataan jiwa yang dapat kita hayati dari luar.
Perspektif kognitif dikemukakan oleh Jean Peaget (1896-1980): perspektif kognitif adalah tingkat kecerdasan,perkembangan bahasa, kreatif serta kemampuan berfikir kritis dan keahlian menyelesaikan masalah. Psikologi kognitif adalah ilmu mengenai pemrosesan informasi. Bagaimana cara kita memperoleh informasi mengenai dunia dan bagaimana pemerosesannya., bagaimana informasi itu disimpan dan diproses oleh otak,bagaimana informasi itu disampaikan dengan struktur penyusunan bahasa, dan proses-proses tersebut ditampilkan dengansebuah prilaku yang dapat diamati dan juga yang tidak dapat diamati.
Perspektif biologis adalah paham yang memandang bahwa perkembangan manusia terkait dengan perkembangan biologisnya. Juga dikatakan bahwa perspektif biologis yaitu sebuah pendekatan psikologi yang menekankan pada berbagai peristiwa yang berlangsung dalam tubuh memengaruhi prilaku, perasaan dan pemikiran seseorang. Psikologi biologis menjelaskan prilaku dalam hal neurologis, yaitu fisiologi dan struktur otak dan bagaimana ini mempengaruhi prilaku. Teori dalam perspektif biologi yang mempelajari perilaku genomik mempertimbangkan bagaimana gen mempengaruhi perilaku. Sekarang genom manusia dipetakan, mungkin, suatu hari nanti kita akan memahami lebih tepatnya bagaimana perilaku dipengaruhi oleh DNA. Faktor biologis seperti kromosom, hormon dan otak semua memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku manusia, untuk jenis kelamin misalnya, Pendekatan biologis berpendapat bahwa perilaku sebagian diwariskan dan memiliki fungsi (atau evolusi) adaptif. Misalnya, dalam minggu-minggu segera setelah kelahiran anak, tingkat testosteron pada ayah hampir lebih dari 30 persen.
Perspektif behaviorisme dikemukakan oleh John Broades Watson: perspektif behaviourisme adalah paham yang sangat percaya bahwa segala tingkah laku manusia adalah hasil dari pembelajaran. Manusia dilahirkan dengan sejumlah reflex yang terbatas. Sedangkan belajar adalah hasil dari pengkondisian reflek-reflek tersebut. Behaviorisme berbeda dengan kebanyakan pendekatan lain karena mereka melihat orang (dan hewan) sebagai dikendalikan oleh lingkungan mereka dan secara khusus bahwa kita adalah hasil dari apa yang telah kita pelajari dari lingkungan kita. Behaviorisme berkaitan dengan bagaimana faktor lingkungan (disebut rangsangan) mempengaruhi perilaku yang dapat diamati (disebut respon). Pendekatan behavioris mengusulkan dua proses utama dimana orang belajar dari lingkungan mereka:. Pengkondisian yaitu klasik dan operant conditioning Pengkondisian klasik melibatkan pembelajaran oleh asosiasi, dan pengkondisian operan melibatkan belajar dari konsekuensi perilaku.
Sejarah Perkembangan Psikologi di Indonesia
Kebutuhan psikologi di Indonesia mulai terasa sejak tahun 1950. Khususnya dalam dunia penyelidikan nasional yang semerawut setelah kemerdekaan yang dipelopori oleh Prof. Slamet Iman Santoso, guru terbesar fakultas kedokteran UI. pada tahun 1953 dibentuk lembaga pendidikan psikologi di Indonesia. Setelah itu banyak perguruan tinggi yang membuka fakultas psikologi karena kebutuhan akan jasa mereka meningkat. Namun demikian evaluasi yang memuaskan baik itu terhadap lembaga pendidikan psikologi itu sendiri maupun perkembangan psikologi sebagai ilmu di Indonesia masih sulit di lakukan.
Cabang-cabang Dalam Ilmu Psikologi
Psikologi dewasa ini tidak hanya mementingkan aliran-aliran yang sifatnya teoretis, tetapi juga memperhatikan penerapannya. Di Indonesia, psikologi baru dikenal secara formal sejak 1953, yaitu sejak didirikannya jurusan psikologi pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia oleh Prof. Dr. Slamet Iman Santoso, psikiater. Fakultas psikologi UI sudah mempunyai beberapa bagian yang masing-masing mengembangkan dan memperaktikkan cabang psikologi yang berbeda, yaitu Bagian Psikologi Klinis, Psikologi Kejuruan dan Perusahaan.
Hubungan Antara Ilmu Psikologi Dengan Ilmu-ilmu Lain
Hubungan psikologi dengan ilmu-ilmu lain ini bersifat timbal-balik dalam artian psikologi memerlukan bantuan ilmu-ilmu lain, dan sebaliknya, ilmu-ilmu lain juga memerlukan bantuan psikologi. Ilmu-ilmu lain yang berhubungan dengan psikologi adalah ada hubungan psikologi dengan sosiologi, hubungan psikologi dengan antropologi, hubungan psikologi dengan ilmu politik, hubungan psikologi dengan ilmu komunikasi, hubungan psikologi dengan biologi, hubungan psikologi dengan filsafat.
PENUTUP
Dari penjelasan sebelumnya dapat kita tarik kesimpulan bahwa psikologi berasal dari bahasa Yunani yaitu kata psyche artinya jiwa dan logos artinya pengetahuan. Jadi secara etimologi, psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam segalanya, prosesnya maupun latar belakangnya atau bisa juga disebut ilmu jiwa. Jiwa seseorang dapat diketahui hanya melalui tingkah lakunya yang merupakan kenyataan jiwa yang dapat kita hayati dari luar. Unsur-unsur yang terdapat pada psikologi ialah tingkah laku atau perbuatan, manusia dan lingkungan.
Cabang-cabang psikologi, yaitu: psikologi klinis, psikologi kejuruan dan perusahaan (sekrang namanya: industri dan organisasi), psikologi anak (sekarang namanya: perkembangan), psikologi eksperimen, psikologi pendidikan, psikologi sosial, psikologi terapan (psikometri), psikologi olahraga, psikologi SDM, psikologi knowledge management, psikologi intervensi sosial dan psikologi kriminal.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Abu. (2009). Psikologi Umum, Jakarta: PT Rineka Cipta
Fauzi, Ahmad. (2004). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia
Irwanto. (2002). Psikologi Umum. Jakarta: PT Prenhallindo
Sarwono, Sarlito Wirawan. (2009). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers
Sobur, Alex. (2010). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia
 

TEORI BELAJAR KLASIK DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

TEORI BELAJAR KLASIK DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk suatu perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak memiliki sikap menjadi bersikap benar, dari tidak terampil menjadi terampil melakukan sesuatu.  Belajar tidak hanya sekedar memetakan pengetahuan atau informasi yang disampaikan.  Namun bagaimana melibatkan individu secara aktif  membuat atau pun merevisi hasil belajar yang diterimanya menjadi suatu pengalamaan yang bermanfaat bagi pribadinya.
Seorang guru profesional tentu harus memahami betul bagaimana proses pembelajaran itu dikembangkan. Dalam rangka meningkatkan kemampuan guru, mereka harus memiliki dasar empiris yang kuat untuk mendukung profesi sebagai pengajar. Jerome S. Bruner, seorang peneliti terkemuka memberikan beberapa gambaran tentang perlunya teori belajar untuk mendukung proses pembelajaran di dalam kelas, serta beberapa contoh praktis untuk dapat menjadi bekal persiapan profesionalitas para guru dengan argumen bahwa dari segi psikologis dan dari desain kurikulum itu sendiri, sangatlah minim dibahas tentang teori belajar.

PEMBAHASAN
Teori belajar klasik
Teori klasik Sebelum Abad ke-20, Teori Belajar Klasik :
Teori disiplin mental theistic
Teori ini berasal dari psikologi daya. Menurut teori ini individu atau anak mepunyai sejumlah daya mental seperti daya untuk mengamati, menganggap, mengingat, berfikir, memecahkan masalah dan sebagainya. Belajar merupakan proses melatih daya-daya tersebut. Jika daya-daya tersebut terlatih maka dengan mudah dapat digunakan untuk menghadapi atau memecahkan berbagai masalah.
Teori naturalisme (perkembangan alamiah) atau unfoldment atau self actualization Teori ini berpangkal dari psikologi naturalisme romantic, dengan tokoh utamanya Jean Jacques Rouseau. Sama dengan teori kedua sebelumnya bahwa anak mempunyai sejumlah potensi atau kemampuan. Kelebihan dari teori ini, berasumsi bahwa individu bukan saja hanya mempunyai potensi atau kemampuan untuk berbuat atau melakukan berbagai  tugas, tetapi juga memiliki kemauan dan kemampuan untuk belajar dan belajar sendiri. Agar anak dapat berkembang dan mengaktualisasikan segala potensi yang dimilikinya.
Teori apersepsi Disebut juga herbartisme, bersumber pada psikologi structuralisme dengan tokoh utamanya Herbart. Menurut aliran ini, belajar adalah membentuk masa apersepsi. Anak mempunyai kemampuan untuk mempelajari sesuatu. Hasil dari suatu perbuatan belajar disimpan dan membentuk suatu masa apersepsi (mengasosiasikan gagasa-gagasan yang lama kegagasan baru), dan masa apersepsi ini digunakan untuk mempelajari atau menguasai pengetahuan selanjutnya, semakin tinggi perkembangan anak, semakin tinggi pula masa apersepsinya.
Implikasi Teori Klasik dalam Pembelajaran
Teori ini hingga sekarang masih mendominasi praktek pembelajaran di Indonesia. Hal ini tampak dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat paling dini, seperti Kelompok bermain, Taman Kanak-kanak, Sekolah-Dasar, Sekolah Menengah, bahkan Perguruan Tinggi, pembentukan perilaku dengan cara pembiasaan (drill) disertai dengan hukuman atau reinforcement masih sering dilakukan. Mari kita kaji bersama bagaimanakah implikasi dari teori klasik dalam kegiatan pembelajaran? Implikasi teori klasik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti; tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik peserta didik, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia.
Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan berpijak pada teori klasik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau peserta didik. Peserta didik diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pendidik atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Peserta didik adalah obyek yang harus berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri peserta didik. Tujuan pembelajaran menurut teori klasik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas “mimetic”, yang menuntut peserta didik untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes.
PENUTUP
Teori belajar klasik adalah teori belajar yang dikemukakan hanyalah berupa pendapat dari pengalaman ketika dalam kegiatan belajar berlangsung tanpa bereksperimen. Berdasarkan unsur historisnya bahwa teori belajar klasik berkembang sebelum abad ke 20 yang dikenal dengan teori belajar disiplin mental. Teori ini tanpa dilandasi eksperimen dan hanya berdasar pada filosofis atau spekulatif. Walaupun berkembang sebelum abad ke-20, namun teori disiplin mental sampai sekarang masih ada pengaruhnya, terutama dalam spelaksanaan pengajaran disekolah-sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Wikipedia, “Pembelajaran”, https://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran (diakses pada 16 September 2023)
Hasmirah Thamrin, “Teori-Teori Belajar”, http://indomaterikuliah.blogspot.co.id (diakses pada 16 September 2023)
Lestari Dewi, (13 september 2016) “Teori teori Belajar dan Pembelajaran”, http://biologi-lestari.blogspot.co.id
Fitrianah Siti (13 september 2016), “Perbedaan Pembelajaran Klasik danModern”, http://fitrianahhadi.blogspot.co.id
“Teori Pembelajaran”, (13 september 2016) http://joegolan.wordpress.co.id

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk suatu perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak memiliki sikap menjadi bersikap benar, dari tidak terampil menjadi terampil melakukan sesuatu.  Belajar tidak hanya sekedar memetakan pengetahuan atau informasi yang disampaikan.  Namun bagaimana melibatkan individu secara aktif  membuat atau pun merevisi hasil belajar yang diterimanya menjadi suatu pengalamaan yang bermanfaat bagi pribadinya.
Seorang guru profesional tentu harus memahami betul bagaimana proses pembelajaran itu dikembangkan. Dalam rangka meningkatkan kemampuan guru, mereka harus memiliki dasar empiris yang kuat untuk mendukung profesi sebagai pengajar. Jerome S. Bruner, seorang peneliti terkemuka memberikan beberapa gambaran tentang perlunya teori belajar untuk mendukung proses pembelajaran di dalam kelas, serta beberapa contoh praktis untuk dapat menjadi bekal persiapan profesionalitas para guru dengan argumen bahwa dari segi psikologis dan dari desain kurikulum itu sendiri, sangatlah minim dibahas tentang teori belajar.

PEMBAHASAN
Teori belajar klasik
Teori klasik Sebelum Abad ke-20, Teori Belajar Klasik :
Teori disiplin mental theistic
Teori ini berasal dari psikologi daya. Menurut teori ini individu atau anak mepunyai sejumlah daya mental seperti daya untuk mengamati, menganggap, mengingat, berfikir, memecahkan masalah dan sebagainya. Belajar merupakan proses melatih daya-daya tersebut. Jika daya-daya tersebut terlatih maka dengan mudah dapat digunakan untuk menghadapi atau memecahkan berbagai masalah.
Teori naturalisme (perkembangan alamiah) atau unfoldment atau self actualization Teori ini berpangkal dari psikologi naturalisme romantic, dengan tokoh utamanya Jean Jacques Rouseau. Sama dengan teori kedua sebelumnya bahwa anak mempunyai sejumlah potensi atau kemampuan. Kelebihan dari teori ini, berasumsi bahwa individu bukan saja hanya mempunyai potensi atau kemampuan untuk berbuat atau melakukan berbagai  tugas, tetapi juga memiliki kemauan dan kemampuan untuk belajar dan belajar sendiri. Agar anak dapat berkembang dan mengaktualisasikan segala potensi yang dimilikinya.
Teori apersepsi Disebut juga herbartisme, bersumber pada psikologi structuralisme dengan tokoh utamanya Herbart. Menurut aliran ini, belajar adalah membentuk masa apersepsi. Anak mempunyai kemampuan untuk mempelajari sesuatu. Hasil dari suatu perbuatan belajar disimpan dan membentuk suatu masa apersepsi (mengasosiasikan gagasa-gagasan yang lama kegagasan baru), dan masa apersepsi ini digunakan untuk mempelajari atau menguasai pengetahuan selanjutnya, semakin tinggi perkembangan anak, semakin tinggi pula masa apersepsinya.
Implikasi Teori Klasik dalam Pembelajaran
Teori ini hingga sekarang masih mendominasi praktek pembelajaran di Indonesia. Hal ini tampak dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat paling dini, seperti Kelompok bermain, Taman Kanak-kanak, Sekolah-Dasar, Sekolah Menengah, bahkan Perguruan Tinggi, pembentukan perilaku dengan cara pembiasaan (drill) disertai dengan hukuman atau reinforcement masih sering dilakukan. Mari kita kaji bersama bagaimanakah implikasi dari teori klasik dalam kegiatan pembelajaran? Implikasi teori klasik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti; tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik peserta didik, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia.
Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan berpijak pada teori klasik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau peserta didik. Peserta didik diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pendidik atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Peserta didik adalah obyek yang harus berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri peserta didik. Tujuan pembelajaran menurut teori klasik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas “mimetic”, yang menuntut peserta didik untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes.
PENUTUP
Teori belajar klasik adalah teori belajar yang dikemukakan hanyalah berupa pendapat dari pengalaman ketika dalam kegiatan belajar berlangsung tanpa bereksperimen. Berdasarkan unsur historisnya bahwa teori belajar klasik berkembang sebelum abad ke 20 yang dikenal dengan teori belajar disiplin mental. Teori ini tanpa dilandasi eksperimen dan hanya berdasar pada filosofis atau spekulatif. Walaupun berkembang sebelum abad ke-20, namun teori disiplin mental sampai sekarang masih ada pengaruhnya, terutama dalam spelaksanaan pengajaran disekolah-sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Wikipedia, “Pembelajaran”, https://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran (diakses pada 16 September 2023)
Hasmirah Thamrin, “Teori-Teori Belajar”, http://indomaterikuliah.blogspot.co.id (diakses pada 16 September 2023)
Lestari Dewi, (13 september 2016) “Teori teori Belajar dan Pembelajaran”, http://biologi-lestari.blogspot.co.id
Fitrianah Siti (13 september 2016), “Perbedaan Pembelajaran Klasik danModern”, http://fitrianahhadi.blogspot.co.id
“Teori Pembelajaran”, (13 september 2016) http://joegolan.wordpress.co.id

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Pendidikan ialah faktor utama pembentuk karakter pribadi manusia. Pendidikan merupakan suatu kegiatan umum yang menjamin kelangsungan hidup untuk manusia. Pendidikan berlangsung dimanapun dan kapanpun pada setiap lapisan masyarakat. Secara tidak sengaja maupun sengaja pada kegiatan aktivitas manusia sehari-hari telah terjadi kegiatan Pendidikan. Contohnya setiap kejadian dalam hidup manusia akan menghasilkan sebuah pengalaman hidup. Sebuah pengalaman hidup akan dijadikan sebuah pembelajaran untuk lebih baik di masa depan. Pengalaman hidup sendiri pada dasarnya merupakan hasil belajar.
Aspek penting dalam Pendidikan adalah kegiatan belajar dan pembelajaran. Kegiatan belajar dan pembelajaran merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Manusia dapat mencapai potensinya melalui kegiatan pembelajaran. Manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka tanpa belajar. Belajar merupakan sebuah proses perubahan. Perubahan-perubahan tersebut membawa ke arah yang positif yaitu kemajuan atau perbaikan.
Pendidikan adalah salah satu aset berharga suatu bangsa. Bangsa yang memiliki kualitas pendidikan terbaik yang dapat meluluskan pekerja yang baik dan memiliki rangkaian inovasi dan kreasi unik akan selalu dibutuhkan oleh perusahan bmaupun instansi nasional bahkan internasional. Belajar menjadi sebuah usaha yang dilakukan sesorang untuk mendapatkan pemahaman dan pengetahuan baru unuk membantunya dalam persiapan masa depan. Dalam belajar seseorang akan merasakan perubahan yang terjadi baik secara psikologi maupun secara fisik.
Teori belajar merupakan gabungan dari prinsip-prinsip belajar yang memuat langkah-langkah dan metode pembelajaran yang tepat untuk menanamkan pemahaman dalam diri anak. Teori belajar ini didasarkan pada observasi dan penelitian yang telah dilakukan dan dikembangkan oleh para ahli. Hal ini nantinya akan sangat berguna dalam menentukan strategi pembelajaran yang berkualitas. Teori behaviorisme adalah suatu teori yang menekankan pada perubahan yang terjadi pada peserta didik akibat dari stimulus dan respon yang didapat saat proses pembelajaran berlangsung.

PEMBAHASAN
Pengertian Belajar Menurut Teori Behavioristik
Menurut teori behavioristik, adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah laku. Sebagai contoh, anak belum dapat berhitung perkalian. Walaupun ia sudah berusaha giat, dan gurunya sudah mengajarkannya dengan tekun, namun jika anak tersebut belum dapat mempraktekkan perhitungan perkalian, maka ia belum dianggap belajar. Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat, begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) responpun akan tetap dikuatkan.
Prinsip Aplikasi Teori Behavirostik Dalam Pembelajaran
Teori behaviorisme yang menekankan adanya hubungan antara stimulus (S) dengan respons (R) secara umum dapat dikatakan memiliki arti yang penting bagi siswa untuk meraih keberhasilan belajar. Caranya, guru banyak memberikan stimulus dalam proses pembelajaran, dan dengan cara ini siswa akan merespons secara positif apa lagi jika diikuti dengan adanya reward yang berfungsi sebagai reinforcement (penguatan terhadap respons yang telah ditunjukkan).
Jika yang menjadi titik tekan dalam proses terjadinya belajar pada diri siswa adalah timbulnya hubungan antara stimulus dengan respons, di mana hal ini berkaitan dengan tingkah laku apa yang ditunjukkan oleh siswa, maka penting kiranya untuk memperhatikan hal-hal lainnya di bawah ini, agar guru dapat mendeteksi atau menyimpulkan bahwa proses pembelajaran itu telah berhasil. Hal yang dimaksud adalah sebagai berikut: (1) Guru hendaknya paham tentang jenis stimulus apa yang tepat untuk diberikan kepada siswa. (2) Guru juga mengerti tentang jenis respons apa yang akan muncul pada diri siswa. (3) Untuk mengetahui apakah respons yang ditunjukkan siswa ini benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan.
Aplikasi teori behavioristik dalam proses pembelajaran untuk memaksimalkan tercapainya tujuan pembelajaran (siswa menunjukkan tingkah laku / kompetensi sebagaimana telah dirumuskan), guru perlu menyiapkan dua hal, sebagai berikut: (1) Menganalisis Kemampuan Awal dan Karakteristik Siswa Siswa sebagai subjek yang akan diharapkan mampu memiliki sejumlah kompetensi sebagaimana yang telah ditetapkan dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar, perlu kiranya dianalisis kemampuan awal dan karakteristiknya. Hal ini dilakukan mengingat siswa yang belajar di sekolah tidak datang tanpa berbekal apapun sama sekali (mereka sangat mungkin telah memiliki sejumlah pengetahuan dan keterampilan yang di dapat di luar proses pembelajaran).
Rencana strategi pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru terhadap kondisi materi pembelajaran yang sebagian besar siswa sudah mengetahuinya, materi ini bisa dilakukan pembelajaran dalam bentuk ko-kurikuler (siswa diminta untuk menelaah dan membahas di rumah atau dalam kelompok belajar, lalu diminta melaporkan hasil diskusi kelompok dimaksud). Sedangkan terhadap sebagian besar pokok materi pembelajaran yang tidak dan belum diketahui oleh siswa, pada pokok materi inilah yang akan dibelajarkan secara penuh di dalam kelas.
PENUTUP
Teori belajar memiliki beberapa fungsi dalam proses pembelajaran, antara lain fungsi pemahaman, fungsi prediktif, fungsi kontrol, dan fungsi rekomendatif. Melalui fungsi rekomendatif, teori behavioristik dapat merekomendasikan pedoman instruksional kepada pendidik, yang berupa stimulus-stimulus yang tepat dalam proses pembelajaran sehingga memunculkan respon peserta didik yang merupakan hasil belajar yang diinginkan.
Teori belajar behavioristik menjelaskan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dari beberapa teori belajar behavioristik yang dikembangkan dapat disimpulkan bahwa untuk memunculkan respon yang diharapkan dibutuhkan penguatan (reinforcement).
Aplikasi teori belajar behavioristik sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya sehingga model yang paling cocok adalah Drill dan Practice, contohnya: dimanfaatkan di pendidikan anak usia dini, TK untuk melatih kebiasaan baik, karena anak-anak sangat mudah meniru perilaku yang ada dilingkungannya dan sangat suka dengan pujian dan penghargaan.
DAFTAR PUSTAKA
Nahar Novi Irwan. 2016. Penerapan Teori Belajar Behavioristik Dalam Proses Pembelajaran. Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Muflihin Muh. Hizbul. Aplikasi Dan Implikasi Teori Behaviorisme Dalam Pembelajaran (Analisis Strategis Inovasi Pembelajaran). STAIN Purwokerto
Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology: Theory and Practice. Massachusetts: Allynand Bacon.

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
NURKHALIFAH
NIM : 20230110800095

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Pendidikan ialah faktor utama pembentuk karakter pribadi manusia. Pendidikan merupakan suatu kegiatan umum yang menjamin kelangsungan hidup untuk manusia. Pendidikan berlangsung dimanapun dan kapanpun pada setiap lapisan masyarakat. Secara tidak sengaja maupun sengaja pada kegiatan aktivitas manusia sehari-hari telah terjadi kegiatan Pendidikan. Contohnya setiap kejadian dalam hidup manusia akan menghasilkan sebuah pengalaman hidup. Sebuah pengalaman hidup akan dijadikan sebuah pembelajaran untuk lebih baik di masa depan. Pengalaman hidup sendiri pada dasarnya merupakan hasil belajar.
Aspek penting dalam Pendidikan adalah kegiatan belajar dan pembelajaran. Kegiatan belajar dan pembelajaran merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Manusia dapat mencapai potensinya melalui kegiatan pembelajaran. Manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka tanpa belajar. Belajar merupakan sebuah proses perubahan. Perubahan-perubahan tersebut membawa ke arah yang positif yaitu kemajuan atau perbaikan.
Pendidikan adalah salah satu aset berharga suatu bangsa. Bangsa yang memiliki kualitas pendidikan terbaik yang dapat meluluskan pekerja yang baik dan memiliki rangkaian inovasi dan kreasi unik akan selalu dibutuhkan oleh perusahan bmaupun instansi nasional bahkan internasional. Belajar menjadi sebuah usaha yang dilakukan sesorang untuk mendapatkan pemahaman dan pengetahuan baru unuk membantunya dalam persiapan masa depan. Dalam belajar seseorang akan merasakan perubahan yang terjadi baik secara psikologi maupun secara fisik.
Teori belajar merupakan gabungan dari prinsip-prinsip belajar yang memuat langkah-langkah dan metode pembelajaran yang tepat untuk menanamkan pemahaman dalam diri anak. Teori belajar ini didasarkan pada observasi dan penelitian yang telah dilakukan dan dikembangkan oleh para ahli. Hal ini nantinya akan sangat berguna dalam menentukan strategi pembelajaran yang berkualitas. Teori behaviorisme adalah suatu teori yang menekankan pada perubahan yang terjadi pada peserta didik akibat dari stimulus dan respon yang didapat saat proses pembelajaran berlangsung.

PEMBAHASAN
Pengertian Belajar Menurut Teori Behavioristik
Menurut teori behavioristik, adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah laku. Sebagai contoh, anak belum dapat berhitung perkalian. Walaupun ia sudah berusaha giat, dan gurunya sudah mengajarkannya dengan tekun, namun jika anak tersebut belum dapat mempraktekkan perhitungan perkalian, maka ia belum dianggap belajar. Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat, begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) responpun akan tetap dikuatkan.
Prinsip Aplikasi Teori Behavirostik Dalam Pembelajaran
Teori behaviorisme yang menekankan adanya hubungan antara stimulus (S) dengan respons (R) secara umum dapat dikatakan memiliki arti yang penting bagi siswa untuk meraih keberhasilan belajar. Caranya, guru banyak memberikan stimulus dalam proses pembelajaran, dan dengan cara ini siswa akan merespons secara positif apa lagi jika diikuti dengan adanya reward yang berfungsi sebagai reinforcement (penguatan terhadap respons yang telah ditunjukkan).
Jika yang menjadi titik tekan dalam proses terjadinya belajar pada diri siswa adalah timbulnya hubungan antara stimulus dengan respons, di mana hal ini berkaitan dengan tingkah laku apa yang ditunjukkan oleh siswa, maka penting kiranya untuk memperhatikan hal-hal lainnya di bawah ini, agar guru dapat mendeteksi atau menyimpulkan bahwa proses pembelajaran itu telah berhasil. Hal yang dimaksud adalah sebagai berikut: (1) Guru hendaknya paham tentang jenis stimulus apa yang tepat untuk diberikan kepada siswa. (2) Guru juga mengerti tentang jenis respons apa yang akan muncul pada diri siswa. (3) Untuk mengetahui apakah respons yang ditunjukkan siswa ini benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan.
Aplikasi teori behavioristik dalam proses pembelajaran untuk memaksimalkan tercapainya tujuan pembelajaran (siswa menunjukkan tingkah laku / kompetensi sebagaimana telah dirumuskan), guru perlu menyiapkan dua hal, sebagai berikut: (1) Menganalisis Kemampuan Awal dan Karakteristik Siswa Siswa sebagai subjek yang akan diharapkan mampu memiliki sejumlah kompetensi sebagaimana yang telah ditetapkan dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar, perlu kiranya dianalisis kemampuan awal dan karakteristiknya. Hal ini dilakukan mengingat siswa yang belajar di sekolah tidak datang tanpa berbekal apapun sama sekali (mereka sangat mungkin telah memiliki sejumlah pengetahuan dan keterampilan yang di dapat di luar proses pembelajaran).
Rencana strategi pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru terhadap kondisi materi pembelajaran yang sebagian besar siswa sudah mengetahuinya, materi ini bisa dilakukan pembelajaran dalam bentuk ko-kurikuler (siswa diminta untuk menelaah dan membahas di rumah atau dalam kelompok belajar, lalu diminta melaporkan hasil diskusi kelompok dimaksud). Sedangkan terhadap sebagian besar pokok materi pembelajaran yang tidak dan belum diketahui oleh siswa, pada pokok materi inilah yang akan dibelajarkan secara penuh di dalam kelas.
PENUTUP
Teori belajar memiliki beberapa fungsi dalam proses pembelajaran, antara lain fungsi pemahaman, fungsi prediktif, fungsi kontrol, dan fungsi rekomendatif. Melalui fungsi rekomendatif, teori behavioristik dapat merekomendasikan pedoman instruksional kepada pendidik, yang berupa stimulus-stimulus yang tepat dalam proses pembelajaran sehingga memunculkan respon peserta didik yang merupakan hasil belajar yang diinginkan.
Teori belajar behavioristik menjelaskan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dari beberapa teori belajar behavioristik yang dikembangkan dapat disimpulkan bahwa untuk memunculkan respon yang diharapkan dibutuhkan penguatan (reinforcement).
Aplikasi teori belajar behavioristik sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya sehingga model yang paling cocok adalah Drill dan Practice, contohnya: dimanfaatkan di pendidikan anak usia dini, TK untuk melatih kebiasaan baik, karena anak-anak sangat mudah meniru perilaku yang ada dilingkungannya dan sangat suka dengan pujian dan penghargaan.
DAFTAR PUSTAKA
Nahar Novi Irwan. 2016. Penerapan Teori Belajar Behavioristik Dalam Proses Pembelajaran. Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Muflihin Muh. Hizbul. Aplikasi Dan Implikasi Teori Behaviorisme Dalam Pembelajaran (Analisis Strategis Inovasi Pembelajaran). STAIN Purwokerto
Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology: Theory and Practice. Massachusetts: Allynand Bacon.

PSIKOLOGI BELAJARRAGAM BELAJAR

PSIKOLOGI BELAJAR
RAGAM BELAJAR

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
NURKHALIFAH
NIM : 20230110800095

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Dalam proses kegiatan belajar mengajar sebelumnya ada yang harus diperhatikan baik pengajar maupun peserta pendidik, salah satunya yaitu mengenai ragam-ragam pembelajaran. Hal tersebut penting sekali karena diharapkan nanti dalam proses belajar mengajar dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Untuk mempertemukan tujuan pembelajaran dapat di upayakan dengan cara mengkomunikasikan tujuan tersebut kepada siswa. Dampaknya memang berbeda–beda pada diri rangsangan agar siswa merumuskan sendiri apa yang diingikan atau diharapkan dari kegiatan belajar yang hendak dilakukan. Keanekaragaman belajar muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang bermacam–macam. Lebih jelasnya mengenai ragam-ragam pembelajaran akan diterangkan pada bab selanjutnya.
Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan interaksi yang dinamis antara pendidik yang melaksanakan tugas mengajar dengan anak didik yang melaksanakan kegiatan belajar. Proses interaksi ini sangat penting dalam kelangsungan proses belajar mengajar, karena dalam proses belajar mengajar pendidik menyampaikan suatu pesan berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan etika kepada para peserta didik melalui proses interaksi.
PEMBAHASAN
Hakekat Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Slameto menyatakan bahwa Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Selanjutnya Nana Sudjana mendefenisikan: “Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan suatu perubahan pada diri seseorang”. Perubahan yang dimaksud itu berupa hasil belajar yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk.
Teori Belajar
Pada mulanya teori-teori belajar dikembangkan oleh para ahli psikologi dan dicobakan tidak langsung kepada manusia di sekolah, melainkan menggunakan percobaan dengan binatang. Mereka beranggapan bahwa hasil percobaannya akan dapat diterapkan pada proses belajar-mengajar untuk manusia. Pada tingkat perkembangan berikutnya, baru para ahli mencurahkan perhatiannya pada proses belajar-mengajar untuk manusia di sekolah. Penelitian-penelitiannya yang tertuang dalam berbagai teori yang berbagai macam jenisnya. Teori-teori ini kemudian dikembangkan pada suatu stadium yang berdasar atas prinsip Conditioning, yakni pembentukan hubungan stimulus dan respons.

Macam-macam Ragam Belajar
Ragam Abstrak

Ragam belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat disamping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, astronomi, dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid.
Ragam sosial
Ragam belajar sosial pada dasarnya adalah belajar memahami masalahmasalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga, persahabatan, kelompok, dan masalah lainnya yang bersifat kemasyarakatan. Selain itu, belajar sosial juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional.
Ragam Pemecahan Masalah
Ragam belajar pemecahan masalah yaitu belajar menggunakan metodemetode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas dan tuntas.
Ragam Rasional
Ragam belajar Rasional ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah.
Ragam keterampilan
Ragam belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakangerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular). Tujuannya adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini latihan secara intensif dan teratur amat diperlukan. Termasuk dalam belajar ini misalnya belajar olahraga, musik, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik dan juga sebagian bidang studi agama seperti ibadah shalat dan haji.

Ragam Kebiasaan
Ragam belajar kebisaaan adalah proses pembentukan kebisaaan-kebisaaan baru atau perbaikan kebisaaan-kebisaaan yang telah ada. Belajar kebisaaan selain mengguanakan perintah, suri tauladan dan pengalaman khusus juga menggunakan ganjaran dan hukuman (reward & punishment). Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebisaaan-kebisaaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (konstektual) serta selaras dengan norma dan tata nilai yang berlaku, baik yang bersifat religious maupun yang bersifat kultural dan tradisional. Belajar kebisaaan lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga sebagaimana yang dimaksud oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 Bab VI Bagian keenam Pasal 27 (1). Namun demikian, tentu tidak tertutup kemungkinan penggunaan pelajaran agama sebagai sarana belajar kebisaaan bagi para siswa.

Ragam Apresiasi
Ragam belajar apresiasi merupakan belajar mempertimbangkan (judgement) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skill) dimana dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu, misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, apresiasi lukisan, benda sejarah dan sebagainya. Bidang-bidang studi yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan sastra, kerajinan tangan (prakarya), kesenian, menggambar, dan sebagainya. Selain Bidang studi ini, bidang studi agama juga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat pengembangan belajar apresiasi siswa, misalnya dalam hal seni baca tulis Al-Qur’an.
Prinsip belajar
Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi Dalam suatu proses belajar, banyak segi yang sepatutnya dicapai sebagai hasil belajar, yaitu meliputi pengetahuan dan pemahaman tentang konsep, kemampuan menerapkan konsep, kemampuan menjabarkan dan menarik kesimpulan serta menilai kemanfaatan suatu konsep, menyenangi dan memberi respon yang positif terhadap sesuatu yang dipelajari, diperoleh kecakapan melakukan suatu kegiatan tertentu.
Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman Kemauan dan dorongan untuk melakukan kegiatan yang dapat memberi pengalaman belajar untuk mencapai pemahaman sepatutnya muncul dari dalam diri sendiri. Kemunculan hal tersebut disebabkan oleh adanya rangsangan yang datang dari luar lingkungan. Dalam kegiatan belajar mengajar, rangsangan dapat ditimbulkan dari guru dengan menyodorkan suatu materi pelajaran yang bersifat problematik yang menuntut upaya menemukan pemecahan melalui suatu proses pencarian dan penemuan atau proses pemecahan masalah.
Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan Dalam proses belajar, apa yang ingin dicapai sepatutnya dirasakan dan dimiliki oleh setiap siswa. Tujuan belajar bukan berarti tujuan pembelajaran, karena tujuan pembelajaran merupakan tujuan dan harapan yang ingin dicapai guru dari kegiatan yang dilakukan. Meskipun apa yang diinginkan guru atau yang diharapkan itu kemunculannya pada diri siswa, namun belum tentu apa yang diinginkan guru itu sesuai dengan apa yang diinginkan siswa.
Prinsip mengajar
Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa.
Apa yang telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari materi pembelajaran yang akan diajarkan. Oleh karena itu tingkat kemampuan siswa sebelum proses pembelajaran berlangsung harus diketahui guru. Tingkat kemampuan semacam ini di sebut entry behavior. Entry behavior dapat diketahui diantaranya dengan melakukan pra tes. Hal ini sangat penting agar proses pembelajaran dapat efektif dan efisien
Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis.
Materi–materi pembelajaran yang berkaitan dengan segi– egi kehidupan yang bersifat praktis pada umumnya dapat menarik minat siswa untuk mempelajari. Dengan mempelajari materi pembelajaran yang dikaitkan dengan hal itu perhatian yang bersifat khusus akan muncul, karena bisa jadi, materi pembelajaran yang sama, namun dikaitkan dengan kehidupan yang praktis akan memunculkan keterkaitan dengan seg segi tertentu yang sangat beragam.

PENUTUP
Ragam-ragam belajar antara lain : 1) Abstrak, 2) Keterampilan, 3) Social, 4) Pemecahan masalah, 5) Rasional, 6) Kebiasaan, 7) Apresiasi, 8) Pengetahuan
Prinsip pembelajaran terdiri dari
1) Prinsip belajar yang meliputi:
a) Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi,
b) Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman,
c) Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan.
dan Prinsip mengajar meliputi:
a) Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa,
b) Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis,
c) Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa,
d) Kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar,
e) Tujuan pembelajaran harus diketahui siswa, dan
f) Mengajar harus mengikuti prinsip psikologi tentang belajar
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Lukman. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : CV. Wacana Prima, 2008.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta : Rajawali Pers, 2009.

PSIKOLOGI BELAJAR
RAGAM BELAJAR

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
NURKHALIFAH
NIM : 20230110800095

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Dalam proses kegiatan belajar mengajar sebelumnya ada yang harus diperhatikan baik pengajar maupun peserta pendidik, salah satunya yaitu mengenai ragam-ragam pembelajaran. Hal tersebut penting sekali karena diharapkan nanti dalam proses belajar mengajar dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Untuk mempertemukan tujuan pembelajaran dapat di upayakan dengan cara mengkomunikasikan tujuan tersebut kepada siswa. Dampaknya memang berbeda–beda pada diri rangsangan agar siswa merumuskan sendiri apa yang diingikan atau diharapkan dari kegiatan belajar yang hendak dilakukan. Keanekaragaman belajar muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang bermacam–macam. Lebih jelasnya mengenai ragam-ragam pembelajaran akan diterangkan pada bab selanjutnya.
Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan interaksi yang dinamis antara pendidik yang melaksanakan tugas mengajar dengan anak didik yang melaksanakan kegiatan belajar. Proses interaksi ini sangat penting dalam kelangsungan proses belajar mengajar, karena dalam proses belajar mengajar pendidik menyampaikan suatu pesan berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan etika kepada para peserta didik melalui proses interaksi.
PEMBAHASAN
Hakekat Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Slameto menyatakan bahwa Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Selanjutnya Nana Sudjana mendefenisikan: “Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan suatu perubahan pada diri seseorang”. Perubahan yang dimaksud itu berupa hasil belajar yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk.
Teori Belajar
Pada mulanya teori-teori belajar dikembangkan oleh para ahli psikologi dan dicobakan tidak langsung kepada manusia di sekolah, melainkan menggunakan percobaan dengan binatang. Mereka beranggapan bahwa hasil percobaannya akan dapat diterapkan pada proses belajar-mengajar untuk manusia. Pada tingkat perkembangan berikutnya, baru para ahli mencurahkan perhatiannya pada proses belajar-mengajar untuk manusia di sekolah. Penelitian-penelitiannya yang tertuang dalam berbagai teori yang berbagai macam jenisnya. Teori-teori ini kemudian dikembangkan pada suatu stadium yang berdasar atas prinsip Conditioning, yakni pembentukan hubungan stimulus dan respons.

Macam-macam Ragam Belajar
Ragam Abstrak

Ragam belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat disamping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, astronomi, dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid.
Ragam sosial
Ragam belajar sosial pada dasarnya adalah belajar memahami masalahmasalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga, persahabatan, kelompok, dan masalah lainnya yang bersifat kemasyarakatan. Selain itu, belajar sosial juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional.
Ragam Pemecahan Masalah
Ragam belajar pemecahan masalah yaitu belajar menggunakan metodemetode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas dan tuntas.
Ragam Rasional
Ragam belajar Rasional ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah.
Ragam keterampilan
Ragam belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakangerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular). Tujuannya adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini latihan secara intensif dan teratur amat diperlukan. Termasuk dalam belajar ini misalnya belajar olahraga, musik, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik dan juga sebagian bidang studi agama seperti ibadah shalat dan haji.

Ragam Kebiasaan
Ragam belajar kebisaaan adalah proses pembentukan kebisaaan-kebisaaan baru atau perbaikan kebisaaan-kebisaaan yang telah ada. Belajar kebisaaan selain mengguanakan perintah, suri tauladan dan pengalaman khusus juga menggunakan ganjaran dan hukuman (reward & punishment). Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebisaaan-kebisaaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (konstektual) serta selaras dengan norma dan tata nilai yang berlaku, baik yang bersifat religious maupun yang bersifat kultural dan tradisional. Belajar kebisaaan lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga sebagaimana yang dimaksud oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 Bab VI Bagian keenam Pasal 27 (1). Namun demikian, tentu tidak tertutup kemungkinan penggunaan pelajaran agama sebagai sarana belajar kebisaaan bagi para siswa.

Ragam Apresiasi
Ragam belajar apresiasi merupakan belajar mempertimbangkan (judgement) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skill) dimana dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu, misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, apresiasi lukisan, benda sejarah dan sebagainya. Bidang-bidang studi yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan sastra, kerajinan tangan (prakarya), kesenian, menggambar, dan sebagainya. Selain Bidang studi ini, bidang studi agama juga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat pengembangan belajar apresiasi siswa, misalnya dalam hal seni baca tulis Al-Qur’an.
Prinsip belajar
Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi Dalam suatu proses belajar, banyak segi yang sepatutnya dicapai sebagai hasil belajar, yaitu meliputi pengetahuan dan pemahaman tentang konsep, kemampuan menerapkan konsep, kemampuan menjabarkan dan menarik kesimpulan serta menilai kemanfaatan suatu konsep, menyenangi dan memberi respon yang positif terhadap sesuatu yang dipelajari, diperoleh kecakapan melakukan suatu kegiatan tertentu.
Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman Kemauan dan dorongan untuk melakukan kegiatan yang dapat memberi pengalaman belajar untuk mencapai pemahaman sepatutnya muncul dari dalam diri sendiri. Kemunculan hal tersebut disebabkan oleh adanya rangsangan yang datang dari luar lingkungan. Dalam kegiatan belajar mengajar, rangsangan dapat ditimbulkan dari guru dengan menyodorkan suatu materi pelajaran yang bersifat problematik yang menuntut upaya menemukan pemecahan melalui suatu proses pencarian dan penemuan atau proses pemecahan masalah.
Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan Dalam proses belajar, apa yang ingin dicapai sepatutnya dirasakan dan dimiliki oleh setiap siswa. Tujuan belajar bukan berarti tujuan pembelajaran, karena tujuan pembelajaran merupakan tujuan dan harapan yang ingin dicapai guru dari kegiatan yang dilakukan. Meskipun apa yang diinginkan guru atau yang diharapkan itu kemunculannya pada diri siswa, namun belum tentu apa yang diinginkan guru itu sesuai dengan apa yang diinginkan siswa.
Prinsip mengajar
Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa.
Apa yang telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari materi pembelajaran yang akan diajarkan. Oleh karena itu tingkat kemampuan siswa sebelum proses pembelajaran berlangsung harus diketahui guru. Tingkat kemampuan semacam ini di sebut entry behavior. Entry behavior dapat diketahui diantaranya dengan melakukan pra tes. Hal ini sangat penting agar proses pembelajaran dapat efektif dan efisien
Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis.
Materi–materi pembelajaran yang berkaitan dengan segi– egi kehidupan yang bersifat praktis pada umumnya dapat menarik minat siswa untuk mempelajari. Dengan mempelajari materi pembelajaran yang dikaitkan dengan hal itu perhatian yang bersifat khusus akan muncul, karena bisa jadi, materi pembelajaran yang sama, namun dikaitkan dengan kehidupan yang praktis akan memunculkan keterkaitan dengan seg segi tertentu yang sangat beragam.

PENUTUP
Ragam-ragam belajar antara lain : 1) Abstrak, 2) Keterampilan, 3) Social, 4) Pemecahan masalah, 5) Rasional, 6) Kebiasaan, 7) Apresiasi, 8) Pengetahuan
Prinsip pembelajaran terdiri dari
1) Prinsip belajar yang meliputi:
a) Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi,
b) Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman,
c) Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan.
dan Prinsip mengajar meliputi:
a) Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa,
b) Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis,
c) Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa,
d) Kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar,
e) Tujuan pembelajaran harus diketahui siswa, dan
f) Mengajar harus mengikuti prinsip psikologi tentang belajar
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Lukman. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : CV. Wacana Prima, 2008.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta : Rajawali Pers, 2009.

PSIKOLOGI BELAJAR
RAGAM BELAJAR

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
NURKHALIFAH
NIM : 20230110800095

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Dalam proses kegiatan belajar mengajar sebelumnya ada yang harus diperhatikan baik pengajar maupun peserta pendidik, salah satunya yaitu mengenai ragam-ragam pembelajaran. Hal tersebut penting sekali karena diharapkan nanti dalam proses belajar mengajar dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Untuk mempertemukan tujuan pembelajaran dapat di upayakan dengan cara mengkomunikasikan tujuan tersebut kepada siswa. Dampaknya memang berbeda–beda pada diri rangsangan agar siswa merumuskan sendiri apa yang diingikan atau diharapkan dari kegiatan belajar yang hendak dilakukan. Keanekaragaman belajar muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang bermacam–macam. Lebih jelasnya mengenai ragam-ragam pembelajaran akan diterangkan pada bab selanjutnya.
Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan interaksi yang dinamis antara pendidik yang melaksanakan tugas mengajar dengan anak didik yang melaksanakan kegiatan belajar. Proses interaksi ini sangat penting dalam kelangsungan proses belajar mengajar, karena dalam proses belajar mengajar pendidik menyampaikan suatu pesan berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan etika kepada para peserta didik melalui proses interaksi.
PEMBAHASAN
Hakekat Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Slameto menyatakan bahwa Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Selanjutnya Nana Sudjana mendefenisikan: “Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan suatu perubahan pada diri seseorang”. Perubahan yang dimaksud itu berupa hasil belajar yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk.
Teori Belajar
Pada mulanya teori-teori belajar dikembangkan oleh para ahli psikologi dan dicobakan tidak langsung kepada manusia di sekolah, melainkan menggunakan percobaan dengan binatang. Mereka beranggapan bahwa hasil percobaannya akan dapat diterapkan pada proses belajar-mengajar untuk manusia. Pada tingkat perkembangan berikutnya, baru para ahli mencurahkan perhatiannya pada proses belajar-mengajar untuk manusia di sekolah. Penelitian-penelitiannya yang tertuang dalam berbagai teori yang berbagai macam jenisnya. Teori-teori ini kemudian dikembangkan pada suatu stadium yang berdasar atas prinsip Conditioning, yakni pembentukan hubungan stimulus dan respons.

Macam-macam Ragam Belajar
Ragam Abstrak

Ragam belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat disamping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, astronomi, dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid.
Ragam sosial
Ragam belajar sosial pada dasarnya adalah belajar memahami masalahmasalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga, persahabatan, kelompok, dan masalah lainnya yang bersifat kemasyarakatan. Selain itu, belajar sosial juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional.
Ragam Pemecahan Masalah
Ragam belajar pemecahan masalah yaitu belajar menggunakan metodemetode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas dan tuntas.
Ragam Rasional
Ragam belajar Rasional ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah.
Ragam keterampilan
Ragam belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakangerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular). Tujuannya adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini latihan secara intensif dan teratur amat diperlukan. Termasuk dalam belajar ini misalnya belajar olahraga, musik, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik dan juga sebagian bidang studi agama seperti ibadah shalat dan haji.

Ragam Kebiasaan
Ragam belajar kebisaaan adalah proses pembentukan kebisaaan-kebisaaan baru atau perbaikan kebisaaan-kebisaaan yang telah ada. Belajar kebisaaan selain mengguanakan perintah, suri tauladan dan pengalaman khusus juga menggunakan ganjaran dan hukuman (reward & punishment). Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebisaaan-kebisaaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (konstektual) serta selaras dengan norma dan tata nilai yang berlaku, baik yang bersifat religious maupun yang bersifat kultural dan tradisional. Belajar kebisaaan lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga sebagaimana yang dimaksud oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 Bab VI Bagian keenam Pasal 27 (1). Namun demikian, tentu tidak tertutup kemungkinan penggunaan pelajaran agama sebagai sarana belajar kebisaaan bagi para siswa.

Ragam Apresiasi
Ragam belajar apresiasi merupakan belajar mempertimbangkan (judgement) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skill) dimana dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu, misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, apresiasi lukisan, benda sejarah dan sebagainya. Bidang-bidang studi yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan sastra, kerajinan tangan (prakarya), kesenian, menggambar, dan sebagainya. Selain Bidang studi ini, bidang studi agama juga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat pengembangan belajar apresiasi siswa, misalnya dalam hal seni baca tulis Al-Qur’an.
Prinsip belajar
Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi Dalam suatu proses belajar, banyak segi yang sepatutnya dicapai sebagai hasil belajar, yaitu meliputi pengetahuan dan pemahaman tentang konsep, kemampuan menerapkan konsep, kemampuan menjabarkan dan menarik kesimpulan serta menilai kemanfaatan suatu konsep, menyenangi dan memberi respon yang positif terhadap sesuatu yang dipelajari, diperoleh kecakapan melakukan suatu kegiatan tertentu.
Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman Kemauan dan dorongan untuk melakukan kegiatan yang dapat memberi pengalaman belajar untuk mencapai pemahaman sepatutnya muncul dari dalam diri sendiri. Kemunculan hal tersebut disebabkan oleh adanya rangsangan yang datang dari luar lingkungan. Dalam kegiatan belajar mengajar, rangsangan dapat ditimbulkan dari guru dengan menyodorkan suatu materi pelajaran yang bersifat problematik yang menuntut upaya menemukan pemecahan melalui suatu proses pencarian dan penemuan atau proses pemecahan masalah.
Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan Dalam proses belajar, apa yang ingin dicapai sepatutnya dirasakan dan dimiliki oleh setiap siswa. Tujuan belajar bukan berarti tujuan pembelajaran, karena tujuan pembelajaran merupakan tujuan dan harapan yang ingin dicapai guru dari kegiatan yang dilakukan. Meskipun apa yang diinginkan guru atau yang diharapkan itu kemunculannya pada diri siswa, namun belum tentu apa yang diinginkan guru itu sesuai dengan apa yang diinginkan siswa.
Prinsip mengajar
Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa.
Apa yang telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari materi pembelajaran yang akan diajarkan. Oleh karena itu tingkat kemampuan siswa sebelum proses pembelajaran berlangsung harus diketahui guru. Tingkat kemampuan semacam ini di sebut entry behavior. Entry behavior dapat diketahui diantaranya dengan melakukan pra tes. Hal ini sangat penting agar proses pembelajaran dapat efektif dan efisien
Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis.
Materi–materi pembelajaran yang berkaitan dengan segi– egi kehidupan yang bersifat praktis pada umumnya dapat menarik minat siswa untuk mempelajari. Dengan mempelajari materi pembelajaran yang dikaitkan dengan hal itu perhatian yang bersifat khusus akan muncul, karena bisa jadi, materi pembelajaran yang sama, namun dikaitkan dengan kehidupan yang praktis akan memunculkan keterkaitan dengan seg segi tertentu yang sangat beragam.

PENUTUP
Ragam-ragam belajar antara lain : 1) Abstrak, 2) Keterampilan, 3) Social, 4) Pemecahan masalah, 5) Rasional, 6) Kebiasaan, 7) Apresiasi, 8) Pengetahuan
Prinsip pembelajaran terdiri dari
1) Prinsip belajar yang meliputi:
a) Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi,
b) Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman,
c) Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan.
dan Prinsip mengajar meliputi:
a) Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa,
b) Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis,
c) Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa,
d) Kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar,
e) Tujuan pembelajaran harus diketahui siswa, dan
f) Mengajar harus mengikuti prinsip psikologi tentang belajar
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Lukman. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : CV. Wacana Prima, 2008.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta : Rajawali Pers, 2009.

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
NURKHALIFAH
NIM : 20230110800095

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Dalam proses kegiatan belajar mengajar sebelumnya ada yang harus diperhatikan baik pengajar maupun peserta pendidik, salah satunya yaitu mengenai ragam-ragam pembelajaran. Hal tersebut penting sekali karena diharapkan nanti dalam proses belajar mengajar dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
Untuk mempertemukan tujuan pembelajaran dapat di upayakan dengan cara mengkomunikasikan tujuan tersebut kepada siswa. Dampaknya memang berbeda–beda pada diri rangsangan agar siswa merumuskan sendiri apa yang diingikan atau diharapkan dari kegiatan belajar yang hendak dilakukan. Keanekaragaman belajar muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang bermacam–macam. Lebih jelasnya mengenai ragam-ragam pembelajaran akan diterangkan pada bab selanjutnya.
Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan interaksi yang dinamis antara pendidik yang melaksanakan tugas mengajar dengan anak didik yang melaksanakan kegiatan belajar. Proses interaksi ini sangat penting dalam kelangsungan proses belajar mengajar, karena dalam proses belajar mengajar pendidik menyampaikan suatu pesan berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan etika kepada para peserta didik melalui proses interaksi.
PEMBAHASAN
Hakekat Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Slameto menyatakan bahwa Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Selanjutnya Nana Sudjana mendefenisikan: “Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan suatu perubahan pada diri seseorang”. Perubahan yang dimaksud itu berupa hasil belajar yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk.
Teori Belajar
Pada mulanya teori-teori belajar dikembangkan oleh para ahli psikologi dan dicobakan tidak langsung kepada manusia di sekolah, melainkan menggunakan percobaan dengan binatang. Mereka beranggapan bahwa hasil percobaannya akan dapat diterapkan pada proses belajar-mengajar untuk manusia. Pada tingkat perkembangan berikutnya, baru para ahli mencurahkan perhatiannya pada proses belajar-mengajar untuk manusia di sekolah. Penelitian-penelitiannya yang tertuang dalam berbagai teori yang berbagai macam jenisnya. Teori-teori ini kemudian dikembangkan pada suatu stadium yang berdasar atas prinsip Conditioning, yakni pembentukan hubungan stimulus dan respons.

Macam-macam Ragam Belajar
Ragam Abstrak

Ragam belajar abstrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat disamping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, astronomi, dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid.
Ragam sosial
Ragam belajar sosial pada dasarnya adalah belajar memahami masalahmasalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga, persahabatan, kelompok, dan masalah lainnya yang bersifat kemasyarakatan. Selain itu, belajar sosial juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional.
Ragam Pemecahan Masalah
Ragam belajar pemecahan masalah yaitu belajar menggunakan metodemetode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas dan tuntas.
Ragam Rasional
Ragam belajar Rasional ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah.
Ragam keterampilan
Ragam belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakangerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot (neuromuscular). Tujuannya adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini latihan secara intensif dan teratur amat diperlukan. Termasuk dalam belajar ini misalnya belajar olahraga, musik, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik dan juga sebagian bidang studi agama seperti ibadah shalat dan haji.

Ragam Kebiasaan
Ragam belajar kebisaaan adalah proses pembentukan kebisaaan-kebisaaan baru atau perbaikan kebisaaan-kebisaaan yang telah ada. Belajar kebisaaan selain mengguanakan perintah, suri tauladan dan pengalaman khusus juga menggunakan ganjaran dan hukuman (reward & punishment). Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebisaaan-kebisaaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (konstektual) serta selaras dengan norma dan tata nilai yang berlaku, baik yang bersifat religious maupun yang bersifat kultural dan tradisional. Belajar kebisaaan lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga sebagaimana yang dimaksud oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 Bab VI Bagian keenam Pasal 27 (1). Namun demikian, tentu tidak tertutup kemungkinan penggunaan pelajaran agama sebagai sarana belajar kebisaaan bagi para siswa.

Ragam Apresiasi
Ragam belajar apresiasi merupakan belajar mempertimbangkan (judgement) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skill) dimana dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu, misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, apresiasi lukisan, benda sejarah dan sebagainya. Bidang-bidang studi yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan sastra, kerajinan tangan (prakarya), kesenian, menggambar, dan sebagainya. Selain Bidang studi ini, bidang studi agama juga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat pengembangan belajar apresiasi siswa, misalnya dalam hal seni baca tulis Al-Qur’an.
Prinsip belajar
Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi Dalam suatu proses belajar, banyak segi yang sepatutnya dicapai sebagai hasil belajar, yaitu meliputi pengetahuan dan pemahaman tentang konsep, kemampuan menerapkan konsep, kemampuan menjabarkan dan menarik kesimpulan serta menilai kemanfaatan suatu konsep, menyenangi dan memberi respon yang positif terhadap sesuatu yang dipelajari, diperoleh kecakapan melakukan suatu kegiatan tertentu.
Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman Kemauan dan dorongan untuk melakukan kegiatan yang dapat memberi pengalaman belajar untuk mencapai pemahaman sepatutnya muncul dari dalam diri sendiri. Kemunculan hal tersebut disebabkan oleh adanya rangsangan yang datang dari luar lingkungan. Dalam kegiatan belajar mengajar, rangsangan dapat ditimbulkan dari guru dengan menyodorkan suatu materi pelajaran yang bersifat problematik yang menuntut upaya menemukan pemecahan melalui suatu proses pencarian dan penemuan atau proses pemecahan masalah.
Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan Dalam proses belajar, apa yang ingin dicapai sepatutnya dirasakan dan dimiliki oleh setiap siswa. Tujuan belajar bukan berarti tujuan pembelajaran, karena tujuan pembelajaran merupakan tujuan dan harapan yang ingin dicapai guru dari kegiatan yang dilakukan. Meskipun apa yang diinginkan guru atau yang diharapkan itu kemunculannya pada diri siswa, namun belum tentu apa yang diinginkan guru itu sesuai dengan apa yang diinginkan siswa.
Prinsip mengajar
Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa.
Apa yang telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari materi pembelajaran yang akan diajarkan. Oleh karena itu tingkat kemampuan siswa sebelum proses pembelajaran berlangsung harus diketahui guru. Tingkat kemampuan semacam ini di sebut entry behavior. Entry behavior dapat diketahui diantaranya dengan melakukan pra tes. Hal ini sangat penting agar proses pembelajaran dapat efektif dan efisien
Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis.
Materi–materi pembelajaran yang berkaitan dengan segi– egi kehidupan yang bersifat praktis pada umumnya dapat menarik minat siswa untuk mempelajari. Dengan mempelajari materi pembelajaran yang dikaitkan dengan hal itu perhatian yang bersifat khusus akan muncul, karena bisa jadi, materi pembelajaran yang sama, namun dikaitkan dengan kehidupan yang praktis akan memunculkan keterkaitan dengan seg segi tertentu yang sangat beragam.

PENUTUP
Ragam-ragam belajar antara lain : 1) Abstrak, 2) Keterampilan, 3) Social, 4) Pemecahan masalah, 5) Rasional, 6) Kebiasaan, 7) Apresiasi, 8) Pengetahuan
Prinsip pembelajaran terdiri dari
1) Prinsip belajar yang meliputi:
a) Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi,
b) Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman,
c) Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan.
dan Prinsip mengajar meliputi:
a) Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa,
b) Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis,
c) Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa,
d) Kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar,
e) Tujuan pembelajaran harus diketahui siswa, dan
f) Mengajar harus mengikuti prinsip psikologi tentang belajar
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Lukman. Perencanaan Pembelajaran. Bandung : CV. Wacana Prima, 2008.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta : Rajawali Pers, 2009.

TEORI BELAJAR KLASIK DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

TEORI BELAJAR KLASIK DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk suatu perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak memiliki sikap menjadi bersikap benar, dari tidak terampil menjadi terampil melakukan sesuatu.  Belajar tidak hanya sekedar memetakan pengetahuan atau informasi yang disampaikan.  Namun bagaimana melibatkan individu secara aktif  membuat atau pun merevisi hasil belajar yang diterimanya menjadi suatu pengalamaan yang bermanfaat bagi pribadinya.
Seorang guru profesional tentu harus memahami betul bagaimana proses pembelajaran itu dikembangkan. Dalam rangka meningkatkan kemampuan guru, mereka harus memiliki dasar empiris yang kuat untuk mendukung profesi sebagai pengajar. Jerome S. Bruner, seorang peneliti terkemuka memberikan beberapa gambaran tentang perlunya teori belajar untuk mendukung proses pembelajaran di dalam kelas, serta beberapa contoh praktis untuk dapat menjadi bekal persiapan profesionalitas para guru dengan argumen bahwa dari segi psikologis dan dari desain kurikulum itu sendiri, sangatlah minim dibahas tentang teori belajar.

PEMBAHASAN
Teori belajar klasik
Teori klasik Sebelum Abad ke-20, Teori Belajar Klasik :
Teori disiplin mental theistic
Teori ini berasal dari psikologi daya. Menurut teori ini individu atau anak mepunyai sejumlah daya mental seperti daya untuk mengamati, menganggap, mengingat, berfikir, memecahkan masalah dan sebagainya. Belajar merupakan proses melatih daya-daya tersebut. Jika daya-daya tersebut terlatih maka dengan mudah dapat digunakan untuk menghadapi atau memecahkan berbagai masalah.
Teori naturalisme (perkembangan alamiah) atau unfoldment atau self actualization Teori ini berpangkal dari psikologi naturalisme romantic, dengan tokoh utamanya Jean Jacques Rouseau. Sama dengan teori kedua sebelumnya bahwa anak mempunyai sejumlah potensi atau kemampuan. Kelebihan dari teori ini, berasumsi bahwa individu bukan saja hanya mempunyai potensi atau kemampuan untuk berbuat atau melakukan berbagai  tugas, tetapi juga memiliki kemauan dan kemampuan untuk belajar dan belajar sendiri. Agar anak dapat berkembang dan mengaktualisasikan segala potensi yang dimilikinya.
Teori apersepsi Disebut juga herbartisme, bersumber pada psikologi structuralisme dengan tokoh utamanya Herbart. Menurut aliran ini, belajar adalah membentuk masa apersepsi. Anak mempunyai kemampuan untuk mempelajari sesuatu. Hasil dari suatu perbuatan belajar disimpan dan membentuk suatu masa apersepsi (mengasosiasikan gagasa-gagasan yang lama kegagasan baru), dan masa apersepsi ini digunakan untuk mempelajari atau menguasai pengetahuan selanjutnya, semakin tinggi perkembangan anak, semakin tinggi pula masa apersepsinya.
Implikasi Teori Klasik dalam Pembelajaran
Teori ini hingga sekarang masih mendominasi praktek pembelajaran di Indonesia. Hal ini tampak dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat paling dini, seperti Kelompok bermain, Taman Kanak-kanak, Sekolah-Dasar, Sekolah Menengah, bahkan Perguruan Tinggi, pembentukan perilaku dengan cara pembiasaan (drill) disertai dengan hukuman atau reinforcement masih sering dilakukan. Mari kita kaji bersama bagaimanakah implikasi dari teori klasik dalam kegiatan pembelajaran? Implikasi teori klasik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti; tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik peserta didik, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia.
Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan berpijak pada teori klasik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau peserta didik. Peserta didik diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pendidik atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Peserta didik adalah obyek yang harus berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri peserta didik. Tujuan pembelajaran menurut teori klasik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas “mimetic”, yang menuntut peserta didik untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes.
PENUTUP
Teori belajar klasik adalah teori belajar yang dikemukakan hanyalah berupa pendapat dari pengalaman ketika dalam kegiatan belajar berlangsung tanpa bereksperimen. Berdasarkan unsur historisnya bahwa teori belajar klasik berkembang sebelum abad ke 20 yang dikenal dengan teori belajar disiplin mental. Teori ini tanpa dilandasi eksperimen dan hanya berdasar pada filosofis atau spekulatif. Walaupun berkembang sebelum abad ke-20, namun teori disiplin mental sampai sekarang masih ada pengaruhnya, terutama dalam spelaksanaan pengajaran disekolah-sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Wikipedia, “Pembelajaran”, https://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran (diakses pada 16 September 2023)
Hasmirah Thamrin, “Teori-Teori Belajar”, http://indomaterikuliah.blogspot.co.id (diakses pada 16 September 2023)
Lestari Dewi, (13 september 2016) “Teori teori Belajar dan Pembelajaran”, http://biologi-lestari.blogspot.co.id
Fitrianah Siti (13 september 2016), “Perbedaan Pembelajaran Klasik danModern”, http://fitrianahhadi.blogspot.co.id
“Teori Pembelajaran”, (13 september 2016) http://joegolan.wordpress.co.id

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Siti Sanisah, M.pd
Penulis
RAHMATIKA
NIM : 20230110800103

PRODI PENDIDIKAN GURU SD (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH MATARAM
2023/2024

PENDAHULUAN

Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk suatu perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak memiliki sikap menjadi bersikap benar, dari tidak terampil menjadi terampil melakukan sesuatu.  Belajar tidak hanya sekedar memetakan pengetahuan atau informasi yang disampaikan.  Namun bagaimana melibatkan individu secara aktif  membuat atau pun merevisi hasil belajar yang diterimanya menjadi suatu pengalamaan yang bermanfaat bagi pribadinya.
Seorang guru profesional tentu harus memahami betul bagaimana proses pembelajaran itu dikembangkan. Dalam rangka meningkatkan kemampuan guru, mereka harus memiliki dasar empiris yang kuat untuk mendukung profesi sebagai pengajar. Jerome S. Bruner, seorang peneliti terkemuka memberikan beberapa gambaran tentang perlunya teori belajar untuk mendukung proses pembelajaran di dalam kelas, serta beberapa contoh praktis untuk dapat menjadi bekal persiapan profesionalitas para guru dengan argumen bahwa dari segi psikologis dan dari desain kurikulum itu sendiri, sangatlah minim dibahas tentang teori belajar.

PEMBAHASAN
Teori belajar klasik
Teori klasik Sebelum Abad ke-20, Teori Belajar Klasik :
Teori disiplin mental theistic
Teori ini berasal dari psikologi daya. Menurut teori ini individu atau anak mepunyai sejumlah daya mental seperti daya untuk mengamati, menganggap, mengingat, berfikir, memecahkan masalah dan sebagainya. Belajar merupakan proses melatih daya-daya tersebut. Jika daya-daya tersebut terlatih maka dengan mudah dapat digunakan untuk menghadapi atau memecahkan berbagai masalah.
Teori naturalisme (perkembangan alamiah) atau unfoldment atau self actualization Teori ini berpangkal dari psikologi naturalisme romantic, dengan tokoh utamanya Jean Jacques Rouseau. Sama dengan teori kedua sebelumnya bahwa anak mempunyai sejumlah potensi atau kemampuan. Kelebihan dari teori ini, berasumsi bahwa individu bukan saja hanya mempunyai potensi atau kemampuan untuk berbuat atau melakukan berbagai  tugas, tetapi juga memiliki kemauan dan kemampuan untuk belajar dan belajar sendiri. Agar anak dapat berkembang dan mengaktualisasikan segala potensi yang dimilikinya.
Teori apersepsi Disebut juga herbartisme, bersumber pada psikologi structuralisme dengan tokoh utamanya Herbart. Menurut aliran ini, belajar adalah membentuk masa apersepsi. Anak mempunyai kemampuan untuk mempelajari sesuatu. Hasil dari suatu perbuatan belajar disimpan dan membentuk suatu masa apersepsi (mengasosiasikan gagasa-gagasan yang lama kegagasan baru), dan masa apersepsi ini digunakan untuk mempelajari atau menguasai pengetahuan selanjutnya, semakin tinggi perkembangan anak, semakin tinggi pula masa apersepsinya.
Implikasi Teori Klasik dalam Pembelajaran
Teori ini hingga sekarang masih mendominasi praktek pembelajaran di Indonesia. Hal ini tampak dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat paling dini, seperti Kelompok bermain, Taman Kanak-kanak, Sekolah-Dasar, Sekolah Menengah, bahkan Perguruan Tinggi, pembentukan perilaku dengan cara pembiasaan (drill) disertai dengan hukuman atau reinforcement masih sering dilakukan. Mari kita kaji bersama bagaimanakah implikasi dari teori klasik dalam kegiatan pembelajaran? Implikasi teori klasik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti; tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik peserta didik, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia.
Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan berpijak pada teori klasik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau peserta didik. Peserta didik diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pendidik atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Peserta didik adalah obyek yang harus berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri peserta didik. Tujuan pembelajaran menurut teori klasik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas “mimetic”, yang menuntut peserta didik untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes.
PENUTUP
Teori belajar klasik adalah teori belajar yang dikemukakan hanyalah berupa pendapat dari pengalaman ketika dalam kegiatan belajar berlangsung tanpa bereksperimen. Berdasarkan unsur historisnya bahwa teori belajar klasik berkembang sebelum abad ke 20 yang dikenal dengan teori belajar disiplin mental. Teori ini tanpa dilandasi eksperimen dan hanya berdasar pada filosofis atau spekulatif. Walaupun berkembang sebelum abad ke-20, namun teori disiplin mental sampai sekarang masih ada pengaruhnya, terutama dalam spelaksanaan pengajaran disekolah-sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Wikipedia, “Pembelajaran”, https://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran (diakses pada 16 September 2023)
Hasmirah Thamrin, “Teori-Teori Belajar”, http://indomaterikuliah.blogspot.co.id (diakses pada 16 September 2023)
Lestari Dewi, (13 september 2016) “Teori teori Belajar dan Pembelajaran”, http://biologi-lestari.blogspot.co.id
Fitrianah Siti (13 september 2016), “Perbedaan Pembelajaran Klasik danModern”, http://fitrianahhadi.blogspot.co.id
“Teori Pembelajaran”, (13 september 2016) http://joegolan.wordpress.co.id

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai